Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenristek Dorong Pengembangan Obat dan Vaksin COVID-19

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 06 April 2020 19:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 04 06 56 2195092 kemenristek-dorong-pengembangan-obat-dan-vaksin-covid-19-OtK3eaxhsu.jpg (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Untuk melawan pandemi COVID-19, pemerintah telah mengerahkan bidang riset dan teknologi. Mendukung kegiatan penelitian untuk memerangi wabah virus ini, pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp38 miliar.

"Jangka panjang, tentunya kita harus mencari dan mengembangkan obat dan terutama vaksin dari COVID-19," kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro melalui live streaming YouTube hari ini (6/4/2020).

Bambang mengatakan, saat ini melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsorsium Ristek untuk COVID-19 sedang melakukan riset test kit. Test kit pertama bersifat PCR diagnostic test dan non-PCR atau yang dikenal dengan rapid test.

Bambang lebih lanjut mengungkapkan bahwa test kit PCR sudah selesai. Pihaknya mendapatkan dukungan dari Litbangkes. Dalam waktu kurang dari 1 bulan, BPPT akan mengembangkan mobile test kit yang berbasis PCR.

"Terutama untuk mendukung pemeriksaan swab tes atau PCR yang dilakukan di tempat-tempat yang belum dilengkapi dengan laboratorium setara BSL 2. Bisa dipakai di berbagai daerah di Indonesia," katanya.

Menristek juga mengungkapkan perkembangan rapid test diperkirakan dalam waktu 1-2 bulan ini sudah bisa diproduksi sebanyak 100 ribu.

"Tentunya, gugus tugas, mendatangkan rapid test dari luar negeri, tetapi dalam 1-2 bulan ini Insya Allah tim yang dipimpin oleh BPPT bisa memproduksi sampai 100 ribu rapid test tentunya tidak seakurat PCR, tetapi paling tidak membantu untuk screening awal sekaligus memberikan penanganan kepada yang sudah dites dengan pendekatan rapid test tersebut," jelasnya.

Menristek menyebut bahwa obat dan vaksin masuk dalam prioritas jangka menengah panjang. Menurutnya, pengembangan vaksin dibutuhkan waktu minimal 1 tahun, kecuali ada vaksin yang sudah dikembangkan dari luar yang kemudian bisa diproduksi di Indonesia.

"Tapi kami juga fokus selain vaksin adalah pada suplemen, paling tidak untuk menjaga imunitas tubuh dengan berbagai bahan yang ada di Indonesia, dan tentunya obat," tambahnya.

Salah satu yang sedang diuji untuk obat COVID-19 adalah pil kina.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini