Dampak yang Dialami Astronot Setelah Jalani Misi Stasiun Luar Angkasa

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Rabu 15 April 2020 17:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 15 56 2199703 dampak-yang-dialami-astronot-setelah-jalani-misi-stasiun-luar-angkasa-iFjYLyr5zD.jpeg Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA- Sebuah studi baru telah mengungkapkan adanya perubahan signifikan pada materi putih otak pada astronot setelah tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Para ilmuwan mengatakan perubahan volume otak bisa permanen.

Dilansir dari laman New Atlas, Rabu (15/4/2020) sebelumnya penelitian juga mengungkapkan bahwa astronot juga mengalami peradangan pada saraf optik, peradangan pada retina, dan perubahan struktural mata.

Salah satu teori utama mengapa perubahan ini terjadi adalah apa yang dikenal sebagai Visual Intracranial Pressure Impairment.

Dalam lingkungan gayaberat mikro, cairan di dalam tubuh berperilaku berbeda dengan di Bumi, di mana gravitasi biasanya menyeretnya ke bawah.

Di tempat-tempat seperti ISS, mereka malah dapat melakukan perjalanan ke atas, yang diyakini para ilmuwan dapat meningkatkan tekanan intrakranial para astronot dan mendorong perubahan pada visi mereka.

"Ketika Anda berada dalam gaya berat mikro, cairan seperti darah vena Anda tidak lagi masuk ke ekstremitas bawah Anda tetapi mendistribusikan kembali ke depan," Larry A. Kramer, MD, dari University of Texas Health Science Center.

"Pergerakan cairan ke kepala Anda mungkin merupakan salah satu mekanisme yang menyebabkan perubahan yang kita amati di mata dan kompartemen intrakranial," imbuh dia.

Studi ini berusaha untuk menyelidiki mekanisme yang mendasari ini, dan belajar lebih banyak tentang bagaimana mereka mungkin terkait dengan perubahan pada materi putih otak. Tim melakukan MRI otak dari 11 astronot sebelum mereka melakukan perjalanan ke ISS, dan sekali lagi satu hari setelah mereka kembali. Pemindaian kemudian dilakukan pada beberapa interval sepanjang tahun berikutnya.

"Apa yang kami mengidentifikasi bahwa tidak ada yang benar-benar mengidentifikasi sebelumnya adalah bahwa ada peningkatan volume materi putih otak yang signifikan dari preflight ke postflight," kata Kramer.

Perubahan ini tetap terlihat satu tahun setelah spaceflight, yang menurut para peneliti mengindikasikan mereka bisa menjadi perubahan permanen. Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa perubahan volume cairan serebrospinal (CSF) secara spesifik bisa menjadi pendorong utama Tekanan Intracranial Visual Impairment pada astronot.

Para penulis studi baru juga mengamati peningkatan kecepatan CSF melalui saluran air otak, bersama dengan deformasi kelenjar hipofisis, yang mereka yakini terkait dengan tekanan intrakranial yang lebih tinggi dalam gayaberat mikro.

"Kami menemukan bahwa kelenjar hipofisis kehilangan ketinggian dan postflight yang lebih kecil daripada sebelumnya," kata Kramer.

"Selain itu, kubah kelenjar pituitari sebagian besar berbentuk cembung pada astronot tanpa terpapar dengan gayaberat mikro sebelumnya, tetapi menunjukkan bukti mendatar atau cekcok cekung. Jenis deformasi ini konsisten dengan paparan tekanan intrakranial yang meningkat," imbuh Kramer.

Para peneliti yang sama sedang menyelidiki bagaimana efek ini dapat dinetralkan di ruang angkasa. Kemungkinan termasuk penggunaan centrifuge besar yang dapat menampung astronot dan memutarnya untuk menjadikannya gravitasi buatan, dan penggunaan tekanan negatif pada ekstremitas bawah untuk mencegah migrasi cairan ke atas. Dan penelitian juga bisa bermanfaat bagi orang yang belum pernah ke luar angkasa.

"Jika kita dapat lebih memahami mekanisme yang menyebabkan ventrikel membesar pada astronot dan mengembangkan tindakan pencegahan yang sesuai, maka mungkin beberapa penemuan ini dapat bermanfaat bagi pasien dengan hidrosefalus tekanan normal dan kondisi terkait lainnya," kata Kramer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini