Google Temukan 18 Juta Malware dan 240 Juta Spam di Tengah Pandemi

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 23 April 2020 13:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 23 207 2203659 google-temukan-18-juta-malware-dan-240-juta-spam-di-tengah-pandemi-S1nkIncPZc.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA - Google menemukan 18 juta malware dan 240 juta spam terkait virus corona (COVID-19) selama beberapa minggu terakhir. Google juga mendeteksi upaya phishing melalui email dengan kedok virus corona.

Untuk diketahui, email phishing merupakan aktivitas untuk mendapatkan data pribadi korban dengan mengirimkan link berisi malware melalui email. Dalam kasus sekarang ini, email menyamar sebagai otoritas kesehatan untuk meyakinkan korban.

Mark Risher, Senior Director for Account Security, Identity, and Abuse, Google mengatakan untuk mengatasi hal tersebut Google membangun sistem proteksi pada layanannya dengan mesin pembelajaran (machine learning).

“Model machine learning kami telah mendeteksi dan memblokir lebih dari 99,9 persen spam, phishing, dan malware, sementara lapisan pengaman lainnya akan memperingatkan Anda jika hendak masuk situs yang mencurigakan, memindai aplikasi di Google Play sebelum Anda mendownloadnya,” jelas Mark.

Di samping email phishing, peretas juga menggunakan pesan teks, panggilan otomatis dan situs web berbahaya untuk menghubungi korban. Contohnya situs web yang menjual produk pembersih tangan atau masker wajah, namun barang tidak akan dikirim.

Peretas juga menyamar sebagai sumber pemerintah. Beberapa penipuan mengklaim mengeluarkan pembaruan dan pembayaran atas nama IRS atau otoritas pajak pemerintah daerah. Para scammer juga dapat berperan sebagai bank, investor atau penagih utang, dengan penawaran yang dirancang untuk mencuri informasi keuangan target.

Mereka juga dapat menyamar sebagai organisasi nirlaba yang meminta sumbangan untuk COVID-19. Google mengungkap beberapa cara untuk menghindari scammer beberapa di antaranya yakni kunjungi langsung sumber-sumber seperti WHO.int atau CDC.gov untuk mendapatkan informasi faktual terbaru tentang COVID-19.

Kemudian, berhati-hatilah dengan permintaan informasi pribadi atau keuangan. Scammers biasanya meminta Anda untuk memasukkan informasi login, atau berbagi detail dan alamat bank dengan mereka. Mereka juga dapat meminta pembayaran melalui transfer bank atau mata uang virtual.

Peretas juga berpura-pura sebagai organisasi nirlaba yang sah. Untuk lebih yakin bahwa donasi akan mencapai organisasi nirlaba yang sah, Anda dapat menyumbang langsung melalui situs web mereka, daripada mengklik tautan yang dikirimkan kepada Anda.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini