Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sampah Antariksa Bisa Merusak Satelit yang Masih Beroperasi

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Rabu 13 Mei 2020 21:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 13 56 2213687 sampah-antariksa-bisa-merusak-satelit-yang-masih-beroperasi-YZTQjjzEwx.jpg (Foto: SciTech Europa)

JAKARTA - Sampah antariksa menjadi isu internasional, dikutip situs resmi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Hal ini dikarenakan sampah antariksa berpotensi mengganggu bahkan merusak satelit (atau apapun wahana antariksa) yang masih beroperasi.

Ini dikarenakan kecepatannya yang luar biasa sehingga sampah yang berukuran sangat kecil pun memiliki energi yang cukup besar untuk menimbulkan kerugian. Sampah antariksa bisa bergerak dengan laju mencapai 7 km/detik (25 ribu km/jam). Akibatnya, sampah dengan berat 5 kg memiliki energi yang sebanding dengan sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan 100 km/jam.

Dalam sebuah tabrakan antara dua benda antariksa buatan, rata-rata laju relatif antara kedua benda adalah sekitar 11 km/detik (mendekati 40 ribu km/jam). Oleh karena itu tabrakan dengan sampah yang berukuran cukup besar mampu menghancurleburkan sebuah satelit seperti yang terjadi pada 10 Februari 2009.

Ketika itu satelit bekas milik Rusia bernama Cosmos 2251 menabrak satelit Iridium 33 milik Amerika Serikat yang masih beroperasi. Ribuan sampah baru kembali tercipta memperparah polusi di antariksa.

Sampah yang lebih kecil bahkan berukuran 1 mm pun tetap berpotensi merusak jika menabrak komponen satelit yang sensitif seperti lensa atau panel surya.

Tapi, kecepatan saja tidak menceritakan semuanya. Hal yang menjadikan sampah antariksa akhirnya menjadi isu internasional adalah jumlahnya yang terus bertambah. Jika pertambahan ini terus berlangsung maka kepadatan di wilayah orbit tertentu suatu saat akan terlalu tinggi sehingga jika di situ terjadi tabrakan antara dua benda maka serpihan-serpihan yang terjadi akan memicu terjadinya tabrakan yang lain.

Pada gilirannya, tabrakan yang lain ini akan memicu tabrakan yang lain lagi. Kejadian ini akan terus berulang sehingga terjadi reaksi berantai tabrakan benda antariksa yang dikenal dengan nama Kessler syndrome. Wilayah orbit yang diperkirakan akan mengalami skenario ini pertama kali adalah wilayah orbit rendah yang berada di ketinggian kurang dari 2.000 km.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini