Pengembangan Vaksin Covid-19 Libatkan Peneliti dalam Negeri dan Lembaga Internasional

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 09 Juni 2020 12:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 09 56 2226814 pengembangan-vaksin-covid-19-libatkan-peneliti-dalam-negeri-dan-lembaga-internasional-l2ncBnHmRJ.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Menteri Ristek/BRIN Bambang P.S Brodjonegoro menjelaskan bahwa vaksin merupakan hal yang ditunggu dan solusi pamungkas dari segi ekonomi dan segi kesehatan.

“Selain LBM Eijkman yang sedang melakukan penelitian terkait vaksin, kami juga ingin mengundang partisipasi berbagai pihak untuk bekerja bersama. Harapannya Tim ini mampu memberikan kontribusi dibidang kesehatan dan membantu 265 juta masyarakat Indonesia. Hasil kerja kita ditunggu dan itulah solusi pamungkas," kata Menteri Bambang melalui keterangan resminya.

Menurutnya, Indonesia harus punya kemandirian dalam mengembangkan dan memproduksi vaksin. Pengembangan vaksin ini dilakukan secara paralel oleh peneliti dalam negeri dan tetap bekerjasama dengan lembaga internasional untuk kesiapan pada tahap produksi hingga imunisasi massal.

Menteri Bambang mengatakan, perusahaan BUMN seperti Bio Farma dan swasta seperti Kalbe Farma juga sudah mulai bekerja sama dengan produsen vaksin dari China dan Korea. Kerja sama dalam konteks juga untuk memastikan pasokan vaksin di Indonesia. Jadi dilakukan paralel selama kerja sama tersebut memberikan transfer teknologi dalam proses pengembangan dan dalam proses produksinya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan bahwa Indonesia dikejar untuk menemukan vaksin virus corona.

“Sudah sangat jelas kita dikejar waktu, target waktu itulah yang harus diselesaikan," kata Menkes Terawan melalui keterangan resminya di situs resmi Ristekbrin.

Menurut Menkes Terawan, sepuluh kandidat vaksin yang masuk di WHO saat ini, dilakukan dengan pendekatan empat karakter yang berbeda. Baik itu melalui karakter Vaksin Virus, melalui Vaksin Viral-Vector, Vaksin Asam Nukleat, maupun Vaksin berbasis protein.

"Saya lihat yang paling cepat saat ini Bio Farma dengan Inactiv Virus bersama Sinovac atau Sinopharm China dengan juga melibatkan alih teknologi, di mana kita temukan hasil sequencing mirip dengan Wuhan,” ungkap Menteri Terawan.

Sementara itu, Kementerian BUMN yang diwakili Staf Khusus, Nanang Pamuji menyatakan, “Covid-19 ini bisa menjadi momentum tidak hanya dari hilirisasi hasil namun juga mulai dari hulu. Akan saya usulkan ke Pak Erik agar BUMN memiliki kerjasama yang lebih erat dengan universitas dan lembaga penelitian."

"Karena kita bisa membantu kekurangan resource dan membantu di lembaga penelitian. Lalu bisa kita jadikan starting point penguatan industri vaksin ke depan, jadi tidak hanya menciptakan vaksin Covid-19 tapi juga menciptakan vaksin-vaksin yang lain. Sehingga industri vaksin kita semakin maju dan mengurangi impor," katanya.

Rencana pembentukan tim nasional percepatan pengembangan vaksin Covid-19 ini nantinya terdiri dari Lembaga Non Kementerian terkait seperti BPPT, LBM Eijkman, LIPI, peneliti dan perekayasa dari Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian serta peneliti diaspora, lembaga pemerintah seperti Litbangkes dan BPOM serta BUMN yaitu perusahaan farmasi Bio Farma, atau swasta seperti Kalbe Farma.

Sebagai ketua pelaksana harian percepatan pengembangan vaksin Covid-19 akan dikoordinasikan oleh Ali Ghufron Mukti, yang saat ini sekaligus sebagai Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

 

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini