Menristek Perkirakan Harga Vaksin Covid-19 Akan Meningkat

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Rabu 10 Juni 2020 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 10 56 2227432 menristek-perkirakan-harga-vaksin-covid-19-akan-meningkat-GBJyeBdr2n.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro memperkirakan harga vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan dari berbagai negara akan melonjak mengingat permintaan tinggi dengan suplai vaksin yang belum mencukupi.

Melalui keterangan resmi yang diterima Okezone, ini menjadi tantangan bagi Indonesia yang perlu mengimunisasi paling tidak 130 juta penduduk (setengah populasi) hingga 170 juta penduduk (dua per tiga populasi).

"Saya yakin meskipun nanti ada beberapa perusahaan yang menemukan vaksin, meskipun mereka mengklaim bisa memproduksi satu miliar ampul setahun. Kalau Bio Farma itu ratusan juta kapasitas produksinya setahun. Kita tidak ada jaminan Indonesia akan langsung bisa mendapatkan atau kalaupun kita bisa membeli langsung, ada kemungkinan harganya tidak bisa harga yang normal," kata Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat live streaming dengan topik Vaksin Made in Indonesia melalui aplikasi telekonferensi pada Selasa (9/4) sore.

Ia mengatakan, dalam kondisi pandemi di mana hukum demand dan supply yang normal tidak bisa karena sisi demand luar biasa besar, sisi supply sangat terbatas.

"Kita bisa bayangkan kalau kita hanya membeli maka harganya itu bisa melonjak apalagi kalau terlambat dalam membeli," ungkap Menristek.

Menristek/Kepala BRIN menjelaskan saat ini tim pengembangan vaksin nasional sedang dibentuk yang beranggotakan seluruh kementerian yang terkait secara langsung dalam pengembangan vaksin.

"Saat ini kita sedang membentuk tim pengembangan vaksin nasional yang anggotanya tidak hanya Kemenristek/BRIN tapi juga mengikutsertakan Kementerian BUMN; Kementerian Kesehatan karena nantinya yang imunisasi adalah Kemenkes; Kementerian Luar Negeri karena kita perlu juga diplomasi vaksin; Kementerian Perindustrian karena industri nanti yang akan menghasilkan vaksin itu; dan beberapa kementerian lainnya," terangnya.



(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini