Tim Pengembangan Vaksin Nasional Percepat Produksi Vaksin Covid-19

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Rabu 10 Juni 2020 11:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 10 56 2227439 tim-pengembangan-vaksin-nasional-percepat-produksi-vaksin-covid-19-DDS93C8BRr.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro telah menjelaskan bahwa saat ini tim pengembangan vaksin nasional sedang dibentuk. Ini beranggotakan seluruh kementerian yang terkait secara langsung dalam pengembangan vaksin.

"Tujuannya adalah kita ingin mendapatkan vaksin dalam waktu relatif cepat agar tidak tertinggal dibanding negara lain. Kemudian kita juga mengembangkan vaksin dari Indonesia sendiri yang kita harapkan akan efektif terutama untuk virus yang beredar di Indonesia," ungkap Menteri Bambang.

Pengembangan vaksin untuk strain virus Covid-19 dalam negeri juga diperlukan karena berdasarkan whole genome sequencing atau pengurutan menyeluruh dari gen virus yang ada di Indonesia, strain virus Covid-19 yang menyebar masuk dalam tiga belas strain virus.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman saat ini sudah mengumpulkan tujuh whole genome sequencing dari Covid-19 di Jabodetabek dan Universitas Airlangga (Unair) sudah mengumpulkan enam whole genome sequencing dari episentrum atau pusat wabah Covid-19 di Surabaya dan sekitarnya.

Dari total tiga belas whole genome sequencing ini, baru dua strain yang diidentifikasi sebagai strain Covid-19 yang beredar di Eropa. Sebelas strain sisanya masih dilabeli others atau masih belum masuk kategori yang dikenali oleh GISAID, yaitu bank data influenza dan coronavirus dunia.

"Indonesia baru menyampaikan kira-kira tiga belas whole genome sequencing. Itu karakter dari virus. Dari tiga belas yang sudah disubmit, tujuh oleh Eijkman dan enam dari Unair. Itu berarti tujuh dari Jabodetabek. Enam dari Surabaya yang sekarang menjadi salah satu episentrum dari jenis virus tersebut. Kita semuanya submit kepada GISAID. GISAID ini semacam bank data influenza di dunia," jelas Menteri Bambang.

Kemenristek/BRIN saat ini melakukan pengembangan vaksin secara paralel atau bersamaan. Strategi utama pengembangan vaksin dilakukan dengan mendukung dan mendanai LBM Eijkman dalam mengembangkan vaksin untuk strain Covid-19 yang hanya menyebar di Indonesia.

"Pengembangan vaksin dilakukan secara paralel dalam pengertian kita tetap mengembangkan vaksin yang dari awal dikembangkan di Indonesia dipimpin oleh Eijkman menggunakan platform yang namanya protein rekombinan. Saat ini sedang dalam tahap untuk mengidentifikasi protein yang nantinya diujicobakan terhadap virusnya dan kelebihan dari metode ini adalah kita hanya melakukan pengembangan vaksin yang berbasis virus yang beredar di Indonesia, baik di Litbangkes maupun di Eijkman. Kalau kita bisa menemukan vaksin dari pendekatan ini, hampir pasti ini akan ampuh terhadap virus yang beredar di Indonesia," ungkap Menteri Bambang.

Strategi kedua pengembangan vaksin adalah melalui bekerja sama dengan negara lain, yaitu China dan Korea Selatan namun strategi ini memiliki kelemahan Indonesia tidak bisa mendapatkan transfer teknologi terkait penemuan vaksin Covid-19.

"Selain yang dikembangkan di Indonesia kita juga menempuh jalur paralel, yaitu bekerja sama dengan pengembang luar. Kebetulan yang sudah diberitakan juga Bio Farma sudah bekerja sama dengan Sinovac dari China yang sudah akan masuk tahap uji klinis di Indonesia. Uji klinis ini penting karena kuncinya nanti vaksin yang dikembangkan di China bisa dikembangkan di Indonesia itu nanti kita akan mengeceknya di uji klinis bagi masyarakat Indonesia. Indonesia ini memang sangat unik untuk uji vaksin karena kita punya etnis yang cukup banyak dan diharapkan satu jenis vaksin bisa untuk semua. Uji klinis Indonesia menjadi sangat penting. Kalbe Farma juga bekerja sama dengan Korea akan melakukan uji klinis di Indonesia. Kelemahan dari pendekatan ini adalah transfer teknologinya hanya di produksinya saja tapi transfer teknologi di penemuan vaksin tidak bisa dilakukan," ungkap Bambang Brodjonegoro.

 

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini