Mengenal Sarah Gilbert, Ilmuwan yang Pimpin Pengembangan Vaksin Covid-19 Universitas Oxford

Farah Azka Gazali, Jurnalis · Senin 27 Juli 2020 16:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 27 16 2252821 mengenal-sarah-gilbert-ilmuwan-yang-pimpin-pengembangan-vaksin-covid-19-universitas-oxford-davjsMxKJh.jpg (Foto: John Lawrence/The Guardian/Thetimes.co.uk)

JAKARTA – Hingga saat ini setidaknya 15 juta orang di dunia telah terinfeksi Covid-19, bahkan 630.000 di antaranya meninggal dunia dalam waktu setengah tahun. Kondisi yang sedemikian mengkhawatirkan, belum lagi ancaman resesi dunia mengharuskan peneliti bertindak cepat guna menemukan vaksin yang diharapkan hadir akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Meski belum menjanjikan dapat digunakan pada akhir tahun, setidaknya sekelompok peneliti dari Universitas Oxford telah berhasil mendapatkan kemajuan besar. Mereka telah berhasil melalui berbagai tahapan yang secara kasar seharusnya dilakukan dalam lima tahun, dan berhasil dilalui hanya dalam kurun waktu empat bulan saja.

Tim berisikan 300 anggota itu berhasil menunjukkan kemajuan dengan adanya indikasi bahwa vaksin bekerja dengan aman dan dapat memicu tubuh memproduksi antibodi dan sel-T yang berfungsi untuk melawan Covid-19. Adapun di balik keberhasilan ini, Profesor Sarah Gilbert menjadi nama yang cukup banyak menarik perhatian publik.

“Sangat mengherankan bahwa, dalam 100 hari mempelajari urutan genetik virus, Sarah dan timnya dapat memulai uji klinis vaksin. Dia adalah ilmuwan hebat. Dia tahu persis apa yang dibutuhkan dan benar-benar efektif untuk menyelesaikannya,” ucap John Bell, profesor medis senior Oxford, dikutip Finance Yahoo.

 
Baca juga: Ini Tanda-Tanda Kiamat dalam Penjelasan Alquran dan Sains

Dilansir BBC, Sarah Gilbert merupakan seorang profesor yang juga bertugas untuk memimpin tim peneliti vaksin dari Universitas Oxford yang bermitra dengan AstraZeneca – sebuah perusahaan farmasi multi-nasional Inggris-Swedia. Meski ia mendapatkan banyak perhatian, pada dasarnya Profesor Gilbert hanyalah seorang ambisius yang cukup senang bekerja jauh dari perhatian, atau secara anonim.

Tidak banyak kisah hidupnya yang terekspos, pada dasarnya kehidupan pribadi miliknya adalah sebuah privasi. Namun beberapa di antaranya sedikit tersebar sebagaimana ia menjelaskan sedikit saja kehidupannya itu. Satu hal dari seorang bernama Sarah Gilbert, sejak muda ia memang sudah mencintai dunia penelitian medis.

“Saya lahir di Kettering (sebuah kota di Northamptonshire, Inggris) dan dibesarkan di sana, hanya berangkat ke universitas,” ucapnya dikutip Finance Yahoo. Saat itu Ia memulai karirnya melalui pendidikan bidang Biologi di University of East Anglia, yang mana setelahnya berlanjut pada jenjang PhD untuk Biokimia di Universitas Hull, sebelum akhirnya menjabat sebagai profesor di Universitas Oxford pada tahun 1994.

Sebelum mulai bekerja pada proyek vaksin Covid-19, Profesor Gilbert memulai karirnya di tim Oxford melalui penelitian vaksin malaria, flu dan setelahnya ChAdOx1 atau sebuah vaksin yang berfokus pada SARS-CoV-2 yang diuji coba pada seekor simpanse. Inilah yang menjadi jembatan karirnya saat ini dalam misi meneliti vaksin Covid-19.

Pada saat pandemi muncul, vaksin tersebut tengah diujicoba juga pada virus penyebab demam Nipah, Lassa, dan Rift Valley, atau secara signifikan berfokus pada sindrom pernafasan di daerah Timur Tengah.

Terlepas dari prestasi yang ia miliki, Profesor Gilbert pada dasarnya hanyalah seorang ibu dari tiga orang anak kembar. Ketiga anaknya itu lahir pada 1998 dan kini sudah berusia 21 tahun. Adapun menjadi seorang ibu dan sekaligus peneliti bukanlah hal yang mudah, “Saya hanya mendapat cuti hamil selama 18 minggu. Saya memiliki tiga bayi prematur untuk dirawat, itu sangat menegangkan,” ucap sang ilmuwan dikutip BBC.

Meski demikian, dikatakan Profesor Gilbert juga memiliki kehidupan yang berhasil, sisi ilmuwan miliknya itu menjadi contoh untuk ketiga anaknya. Sama seperti ibu mereka, ketiganya mendalami ilmu Biokimia. Bahkan lebih dari itu, kini ketiganya turut serta membantu misi sang ibu dengan menjadi relawan untuk uji coba vaksin Covid-19 Universitas Oxford.

Meski belum seratus persen siap, ia mengatakan vaksin itu sudah aman dan bantuan ini menjadi hal yang sangat berarti untuknya. Sehingga uji klinis dan mempercepat produksi menjadi langkah penting yang akan ia lakukan untuk menghentikan penyebaran pandemi sesegera mungkin.

(ahl)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini