Pakai Teknologi AI, Astronom Temukan Galaksi dengan Oksigen Terendah

Tasya Chrismonita, Jurnalis · Senin 03 Agustus 2020 11:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 03 16 2255989 pakai-teknologi-ai-astronom-temukan-galaksi-dengan-oksigen-terendah-9dl4qwuMdC.jpg (Foto: NAOJ/KOJIMA ET AL/Iflscience)

JAKARTA - Astronom menemukan galaksi dengan tingkat oksigen terendah yang pernah terdeteksi. Galaksi ini dikenal sebagai HSC J1631 + 4426 dan terletak 450 juta tahun cahaya dari Bumi.

Oksigen adalah produk sampingan dari proses bintang, semakin banyak oksigen yang ada, berarti semakin tua galaksi. Berkat perangkat lunak pembelajaran mesin, para peneliti kini telah menemukan sebuah galaksi yang memiliki 1,6 persen oksigen yang ada di Matahari.

Melansir dari IFLScience, temuan ini dilaporkan dalam The Astrophysical Journal. Ini adalah tingkat oksigen yang memecahkan rekor menunjukkan galaksi tersebut baru saja membentuk bintang.

Penemuan galaksi seperti itu hanya ditemukan oleh perangkat lunak luar biasa yang dapat menganalisis sejumlah besar data yang dikumpulkan oleh Subaru Telescope. Dari lebih dari 40 juta galaksi yang diamati oleh Subaru, perangkat lunak memilih 27 kandidat yang menarik.

Alasan galaksi tersebut menarik, karena ia merepresentasikan objek yang mulai terbentuk belakangan, dalam sejarah alam semesta yang dapat memberikan wawasan baru tentang pembentukan galaksi. Selain itu, mungkin ini adalah salah satu galaksi terakhir yang dilahirkan, properti lain yang membedakan HSC J1631 + 4426t dari galaksi seperti Bima Sakti kita adalah cahayanya yang begitu luar biasa.

Baca juga: Guncangan Dahsyat Awali Peristiwa Kiamat Dijelaskan Alquran dan Sains

"Yang mengejutkan adalah massa bintang galaksi HSC J1631 + 4426 sangat kecil, 0,8 juta massa matahari. Massa bintang ini hanya sekitar 1 / 100.000 galaksi Bima Sakti kita, dan sebanding dengan massa gugusan bintang di Bima Sakti kita," kata Profesor Masami Ouchi dari Observatorium Astronomi Nasional Jepang dan Universitas Tokyo.

Galaksi seperti ini merupakan temuan yang sangat langka. Tim berharap ini akan memberikan lebih banyak wawasan baru tentang evolusi galaksi.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini