Kotoran Hewan Bisa Diolah Jadi Energi Listrik, Pasok 140 Rumah

Agregasi VOA, Jurnalis · Rabu 05 Agustus 2020 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 05 16 2257534 kotoran-hewan-bisa-diolah-jadi-energi-listrik-pasok-140-rumah-rHWHRA88Yo.jpg (Foto: BBC)

JAKARTA - Kotoran hewan bisa dimanfaatkan sebagai energi listrik. Kabarnya, energi listrik yang dihasilkan mampu digunakan untuk lebih dari 100 rumah.

Dikutip Voaindonesia, peternakan babi di bagian tengah Queensland dapat menghemat ratusan ribu dolar Australia setahun dengan mengubah kotoran hewan menjadi listrik. Peternakan Biloela memproses limbah cair kotoran ternak babi dan menghasilkan energi sebagai pasokan aliran listrik bagi 140 rumah.

Babi di peternakan di bagian tengah Queensland itu seperti kebanyakan ternak lainnya. Akan tetapi, babi pada kenyataannya dapat dijadikan sebagai “mesin penghasil energi berukuran kecil.”

Babi-babi itu menyediakan pasokan listrik untuk seluruh ladang dan peternakan tersebut. Salah seorang peternak, Laurie Brosnan menjelaskan, "Sekitar 30 bangunan berbeda termasuk kantor dan beberapa gedung tambahan ada di sekitar sini. Semuanya kami pasok listrik yang 100 persen dihasilkan dari peternakan kami sendiri."

Setiap hari, 280.000 liter limbah cair yang berasal dari bakteri kotoran peternakan babi dan sapi dicampur dalam tangki besar, lalu diproses melalui pabrik biogas Biloela.

Brosnan memaparkan pembangkit listrik yang saat ini telah berjalan selama enam tahun itu termasuk teknologi gas metan yang tergolong mahal. Namun pasokan aliran listrik yang dihasilkan itu kemudian dialirkan kembali ke seluruh pembangkit.

Sementara itu perusahaan daging yang memasok kotoran hewan ke peternakan Biloela itu juga memiliki alat operasi biogas sendiri. Carl Duncan salah seorang manajer dari Tey Australia Group di Rockhampton menjelaskan hal tersebut dapat menggantikan sekitar 20 persen penggunaan batubara.

"Gas metan yang dihasilkan batubara, bahan bakar yang digunakan dalam boiler itu benar-benar kami kumpulkan lalu kami gunakan untuk menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tersebut," ujarnya.

Baca juga: Sejarah Singkat Mengenai Perkembangan Komputer

Tidak mengherankan jika energi terbarukan itu menjadi lazim digunakan dalam industri peternakan. Seorang pakar lingkungan menguraikan jumlah ternak di Australia berpotensi menghasilkan 20 hingga 30 stasiun pembangkit tenaga listrik.

Najappa Ashwath dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Terapan mengemukakan, "Agar dapat bertahan hidup bahagia di planet ini, itulah satu-satunya cara, untuk meminimalkan produksi gas rumah kaca. Suatu upaya meminimalkan limbah tanpa membuangnya adalah dengan mengubahnya menjadi bahan bakar hayati.”

Ternak-ternak babi itu telah memberikan sedikit keberuntungan bagi Brosnan yang sebulan sebelumnya menghabiskan sekitar USD35.000 dolar AS (sekitar Rp500 juta) untuk tagihan listrik, tapi kini, ia hanya mengeluarkan sekitar USD90 dolar AS (Rp1,3 juta) sebulan.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini