Setelah Kasus Peretasan Akun, Twitter Kini Hadapi Denda Rp3,6 Triliun

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Rabu 05 Agustus 2020 19:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 05 16 2257587 setelah-kasus-peretasan-akun-twitter-kini-hadapi-denda-rp3-6-triliun-lqgovA3tmK.jpg (Foto: Ist)

JAKARTA - Twitter mengatakan bahwa Federal Trade Commission akan mendenda hingga USD250 juta atau sekira Rp3,6 triliun. Perusahaan media sosial itu didenda karena penggunaan yang tidak tepat terkait nomor telefon dan alamat email pengguna, dikutip Theverge.

Denda potensial itu datang karena pelanggaran perjanjian Twitter dengan FTC untuk tidak lagi menyesatkan konsumen tentang cara melindungi informasi pribadi mereka.

Antara 2013 dan 2019, Twitter menggunakan nomor telepon dan alamat email yang disediakan "untuk tujuan keselamatan dan keamanan" guna membantu iklan target. Twitter mengungkapkan praktik itu pada bulan Oktober, mengatakan bahwa itu dilakukan "secara tidak sengaja" dan menyebutnya "kesalahan."

FTC jelas percaya bahwa Twitter menyesatkan konsumen dengan tidak mengungkapkan bahwa data mereka mungkin telah digunakan dengan cara ini.

 
Baca juga: Sejarah Singkat Mengenai Perkembangan Komputer

Twitter mengatakan bahwa komisi tersebut mengirim rancangan komplain pada 28 Juli yang menggambarkan dugaan pelanggaran perjanjian 2011. Twitter memperkirakan bahwa pihaknya dapat didenda mulai dari USD150 juta hingga USD250 juta.

"Masalahnya masih belum terselesaikan, dan tidak ada jaminan mengenai waktu atau ketentuan dari hasil akhir," tulis Twitter dalam pengajuan 10-Q dengan Securities and Exchange Commission.

Twitter pada Juli dilaporkan menghadapi kasus keamanan akun pengguna. Sejumlah akun high profile di Twitter diretas dan diambil alih untuk mempromosikan penipuan Bitcoin.

Beberapa akun yang terpengaruh mencakup Uber, Apple, Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, dan lain-lain.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini