Badan Antariksa Jepang Deteksi Fenomena Gelombang Gas Beracun di Venus

Tasya Chrismonita, Jurnalis · Senin 10 Agustus 2020 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 10 16 2259765 badan-antariksa-jepang-deteksi-fenomena-gelombang-gas-beracun-di-venus-iCAT3ecq1r.jpg Planet Venus. (Foto: NASA)

PARA peneliti melihat adanya lonjakan gelombang gas beracun raksasa di seluruh Venus. Ini merupakan fenomena yang yang belum pernah terlihat sebelumnya di Tata Surya.

Awan selebar planet ini bergerak dengan kecepatan 200 mph melalui atmosfer atas Venus dan bersembunyi selama 35 tahun. Tim Internasional menemukan, gelombang tersebut meluas sejauh 4.660 mil yang disebut "gangguan atmosfer". Itu berarti sekitar 61.000 lapangan sepak bola.

"Jika ini terjadi di Bumi, ini akan menjadi permukaan frontal dalam skala planet," kata ilmuwan Dr. Pedro Machado dari Institut Ilmu Astrofisika dan Luar Angkasa di Portugal seperti dilansir dari nypost.

Venus pernah dianggap menjadi dunia yang layak huni seperti Bumi, tetapi sekarang tidak. Efek rumah kaca yang disebabkan oleh awan asam sulfat yang berputar-putar, telah meningkatkan suhu permukaannya hingga 465 C (869F) cukup panas untuk melelehkan timah.

planet venus

Atmosfer berawan dan angin kencang di Venus memang diketahui dapat menciptakan gelombang gas yang sangat besar, tetapi tida ada yang seperti saat ini. Para peneliti menemukan anomali aneh tersebut setelah mempelajari gambar inframerah yang diambil oleh pengorbit Venus Jepang Akatsuki antara tahun 2016 dan 2018.

Tim peneliti, yang dipimpin oleh badan antariksa Jepang JAXA, berpendapat gelombang gas dapat membantu memecahkan misteri seputar efek rumah kaca misterius di Venus. Ilmuwan JAXA Dr.Javier mengatakan bahwa gangguan tidak dapat diamati dalam gambar ultraviolet yang merasakan puncak awan pada ketinggian sekitar 70 kilometer (43 mil) dan memastikan sifat gelombang sangat penting.

Peneliti akhirnya menemukan gelombang yang membawa momentum dan energi dari atmosfer dalam, dan menghilang sebelum tiba di puncak awan. Namun, saat ini para ilmuwan masih belum mengetahui mekanisme apa yang bertanggung jawab atas gelombang awan. Dan pengamatan lebih lanjut sedang dilakukan dalam upaya untuk menjelaskan fenomena misterius tersebut.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini