Ilmuwan Pelajari Atmosfer Planet Kerdil 'Pluto'

Tasya Chrismonita, Jurnalis · Sabtu 15 Agustus 2020 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 14 16 2262331 ilmuwan-pelajari-atmosfer-planet-kerdil-pluto-e96xQcpXar.jpg (Foto: Universe Today)

JAKARTA - Planet kerdil bukanlah bebatuan mati di tepi Tata Surya, tetapi objek aktif secara geologis dengan atmosfer tipis. Ini terlihat dengan segala kemegahannya pada tahun 2015 oleh penerbangan NASA New Horizons. Khususnya, atmosfer Pluto telah memukau para astronom.

Para peneliti bertanya-tanya apakah atmosfer itu permanen atau berubah seiring musim saat planet mengorbit Matahari. Studi lama mengansumsikan bahwa ketika Pluto mendekati Matahari, es di planet katai berubah menjadi gas dan ketika bergerak lebih jauh, itu mengembun dan membeku sekali lagi.

Baca juga: Masya Allah, Tanda-Tanda Kiamat Dijelaskan dalam Alquran dan Sains

Melansir dari IFLScience, studi baru yang diterbitkan di Icarus menunjukkan bahwa kenyataannya tidak demikian. Dengan menggunakan Observatorium Stratosfer untuk Astronomi Inframerah, atau SOFIA, para peneliti mempelajari atmosfer selama okultasi bintang.

Ketika Pluto lewat di depan sebuah bintang, SOFIA menggunakan cahaya bintang tersebut untuk mempelajari atmosfer. Pengamatan dari SOFIA ini dilakukan hanya beberapa minggu sebelum penerbangan luar biasa New Horizons di Pluto.

Orbit Pluto jauh lebih berbentuk telur daripada Bumi, dalam perjalanannya selama 248 tahun mengelilingi Matahari, ia menghabiskan 20 tahun lebih dekat ke Matahari daripada Neptunus. Ini terakhir terjadi antara 1979 dan 1999, jadi sekarang bergerak ke orbit yang lebih dingin dan lebih jauh, setidaknya untuk saat ini tampaknya atmosfer tidak terpengaruh.

Penulis utama Michael Person, direktur Wallace Astrophysical Observatory dari Massachusetts Institute of Technology, mengatakan bahwa ada petunjuk dalam pengamatan jarak jauh sebelumnya bahwa mungkin ada kabut asap, tetapi masih belum ada konfirmasi hingga datanya memang ada dari SOFIA.

Person juga menambahkan, atmosfer Pluto mungkin akan runtuh lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, atau mungkin bahkan tidak sama sekali runtuh.

Untuk mengetahuinya, peneliti masih harus terus memantaunya. Kabut atmosfer terbuat dari partikel-partikel kecil dengan ketebalan sekitar 0,06-0,10 mikron, sekitar 1.000 kali lebih kecil dari rambut manusia, sehingga memberikan nuansa biru puitis pada atmosfer Pluto.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini