NASA Tembak Laser ke Bulan, Pertama Kalinya Terima Sinyal Balik

Tasya Chrismonita, Jurnalis · Minggu 16 Agustus 2020 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 14 16 2262385 nasa-tembak-laser-ke-bulan-pertama-kalinya-terima-sinyal-balik-k7cNurNKe9.jpg (Foto: NASA)

JAKARTA - Dalam dekade terakhir para ilmuwan NASA sebanyak puluhan kali telah meluncurkan sinar laser pada reflektor sekira 240.000 mil (385.000 kilometer) jauhnya dari Bumi. Akhirnya mereka mengumumkan bersama dengan rekan Prancis bahwa mereka telah menerima sinyal kembali untuk pertama kalinya.

Ini menjadi hasil yang menggembirakan yang dapat meningkatkan eksperimen laser yang digunakan untuk mempelajari fisika alam semesta. Reflektor yang menjadi tujuan ilmuwan NASA dipasang pada Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), pesawat ruang angkasa yang telah mempelajari Bulan dari orbitnya sejak 2009.

Salah satu alasan para insinyur menempatkan reflektor di LRO adalah agar reflektor itu bisa berfungsi sebagai target murni untuk membantu menguji daya pantul panel yang tersisa di permukaan Bulan sekitar 50 tahun yang lalu. Para ilmuwan telah menggunakan reflektor di Bulan sejak era Apollo untuk mempelajari lebih lanjut tentang tetangga terdekat kita.

Salah satu penemuan terbesar adalah bahwa Bumi dan Bulan perlahan-lahan menjauh dengan kecepatan pertumbuhan kuku jari tangan, atau 1,5 inci (3,8 cm) per tahun. Celah yang semakin lebar ini merupakan hasil interaksi gravitasi antara kedua benda.

Melansir dari Scitech Daily, ada lima panel pantulan di Bulan, dua dikirim oleh awak Apollo 11 dan 14 masing-masing pada 1969 dan 1971. Mereka masing-masing terbuat dari 100 cermin yang oleh para ilmuwan disebut "kubus sudut," karena itu adalah sudut kubus kaca; manfaat dari cermin-cermin ini adalah bahwa mereka dapat memantulkan kembali cahaya ke arah manapun asalnya.

Panel lain dengan 300 kubus sudut dijatuhkan oleh astronot Apollo 15 pada tahun 1971. Robot penjelajah Soviet bernama Lunokhod 1 dan 2, yang mendarat pada tahun 1970 dan 1973, membawa dua reflektor tambahan, dengan masing-masing 14 cermin.

Beberapa ahli menduga bahwa mungkin debu mengendap pada reflektor dari waktu kewaktu, setelah terkena dampak mikrometeorit ke permukaan Bulan. Akibatnya debu menghalangi cahaya mencapai cermin dan juga mengisolasi cermin sehingga menyebabkannya menjadi terlalu panas dan menjadi kurang efisien.

Baca juga: Guncangan Dahsyat Awali Peristiwa Kiamat Dijelaskan Alquran dan Sains

Meskipun eksperimen jarak laser pertama mereka berhasil, Erwan Mazarico, ilmuwan planet dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA dan timnya belum menyelesaikan pertanyaan tentang debu. Para peneliti menyempurnakan teknik mereka sehingga mereka dapat mengumpulkan lebih banyak pengukuran.

Keberhasilan mereka sejauh ini didasarkan pada penggunaan teknologi canggih yang dikembangkan oleh tim Géoazur di Université Côte d’Azur untuk stasiun laser di Grasse, Prancis, yang dapat memancarkan sinar inframerah dengan panjang gelombang cahaya di LRO. Salah satu manfaat menggunakan cahaya inframerah adalah dapat menembus atmosfer Bumi lebih baik.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini