Primata Jadi Hewan Paling Rentan Tertular Covid-19

Farah Azka Gazali, Jurnalis · Kamis 27 Agustus 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 27 16 2268471 primata-jadi-hewan-paling-rentan-tertular-covid-19-HHsqMWL2zN.jpg (Foto: Matt Verdolivo/UC Davis/Scitechdaily)

JAKARTA – Sebuah studi dari University of California di Davis berhasil memetakan potensi tertular dari berbagai spesies hewan di dunia. Temuan ini dihasilkan dari penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti internasional dengan melibatkan 410 hewan dari berbagai spesies. Namun dari data temuan, dinyatakan mamalia menjadi spesies yang paling rentan terpapar SARS-CoV-2.

Dilaporkan oleh Science Daily, untuk mendapatkan hasil ini, para peneliti menggunakan reseptor utama virus pada manusia sebagai penentu. Reseptor ini bernama ACE2 atau angiotensin converting enzyme-2, yang umum ditemui pada berbagai sel epitel meliputi hidung, mulut, dan paru-paru. Adapun alasan ACE2 digunakan karena dalam proses pengikatan sel, virus memerlukan protein yang terdapat pada reseptor.

Untuk menyebarkan virus, setidaknya SARS-CoV-2 membutuhkan 25 asam amino dari ACE2. Jumlah inilah yang menjadi acuan dalam penelitian, di mana peneliti memetakan jumlah asam amino yang dibutuhkan pada setiap spesies mamalia atau vertebrata termasuk burung, ikan, dan amfibi. Untuk penentu, hewan yang memiliki jumlah serupa atau mendekati dinyatakan sebagai hewan yang paling rentan terpapar sama seperti manusia.

“Hewan dengan 25 residu asam amino yang cocok dengan protein manusia diperkirakan berada pada risiko tertinggi untuk tertular SARS-CoV-2 melalui ACE2. Risiko ini diperkirakan akan menurun jika residu pengikat ACE2 spesies berbeda dari manusia,” kata Joana Damas, penulis utama studi dikutip Science Daily.

Dari hasil perhitungan residu, peneliti pada akhirnya mengklasifikasi potensi penyebaran menjadi lima kelas berbeda sesuai dengan level atau tingkat kerentanan. Klasifikasi ini telah dipublikasi secara umum pada 21 Agustus di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul “Artikel Penelitian Jangkauan Luas SARS-CoV-2 yang Diprediksi oleh Analisis Komparatif dan Struktural ACE2 Pada Vertebrata”.

Dilansir Inverse, hal mengejutkan dari hasil studi adalah 40% hewan yang “terancam punah” sesuai data International Union for Conservation of Nature masuk pada posisi tiga teratas. Kategori “sangat beresiko tinggi” setara persebaran manusia seluruhnya diisi oleh spesies primata.

Ini meliputi sebagian besar primata yang terancam punah seperti Orangutan Sumatera, Gorilla dataran rendah barat, dan Owa pipi putih utara.

Sementara itu, untuk kategori “beresiko tinggi” sebagian besar diisi oleh spesies Cetacea atau mamalia laut. Ini termasuk paus abu-abu, paus pembunuh, dan paus beluga. Ada pula hewan mamalia lain seperti lemur hitam bermata biru dan Rusa Pere David juga termasuk dalam ketogiri ini. Sayangnya kedua hewan itu merupakan hewan terancam punah.

Baca juga: Sejarah Singkat Mengenai Perkembangan Komputer

Sedangkan untuk kategori medium sebagian diisi oleh hewan peliharaan atau ternak seperti kucing, sapi, dan domba. Namun hewan terancam punah seperti Harimau Siberia juga termasuk dalam kategori ini. Adapun dengan temuan ini, peneliti pada akhirnya menyatakan bahwa Covid-19 menjadi penyakit Zoonosis atau penyakit yang dapat menular dua arah dari manusia dan hewan.

Namun hingga kini, peneliti belum dapat memastikan jika kelelawar dan hewan pengerat menjadi penyebar utama dari virus SARS-CoV-2. Meski kedua hewan mudah ditemui oleh manusia, peneliti belum dapat memastikan untuk wilayah alam liar. Sehingga sebagaimana disampaikan Science Daily, untuk saat ini peneliti masih memikirkan kemungkinan adanya inang perantara dari persebaran SARS-CoV-2.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini