Lindungi Astronot, NASA Pelajari Matahari dan Cuaca Luar Angkasa

Farah Azka Gazali, Jurnalis · Senin 31 Agustus 2020 16:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 31 16 2270300 lindungi-astronot-nasa-pelajari-matahari-dan-cuaca-luar-angkasa-NMFvEoM2VY.jpg (Foto: NASA/Engadget)

JAKARTA - NASA merencanakan misi baru. Misi kali ini akan berfokus pada penelitian dinamika matahari. Ini akan meneliti konsep hubungan matahari dengan lingkungan antariksa di sekitar Bumi. Penelitian dilakukan karena hubungan ini dianggap berpengaruh pada cuaca di luar angkasa.

Dilaporkan Engadget, cuaca di antariksa pada dasarnya sangat berpengaruh – secara negatif – untuk manusia dan teknologinya. Ini dapat membuat ketidakakuratan data satelit dan membahayakan kesehatan astronot.

Dengan melakukan penelitian, nantinya akan didapat informasi baru yang dapat berguna untuk melindungi astronot, satelit, maupun sinyal komunikasi – salah satunya GPS.

Untuk melakukan penelitian, NASA telah memilih lima buah proposal paling potensial. Kelima proposal ini telah diumumkan melalui unggahan Thomas Zurbuchen (@Dr_ThomasZ) selaku Associate Administrator, Direktorat Misi Sains NASA pada Sabtu (29/8).

Dengan dana sebesar USD1,25 juta, kelimanya tidak akan langsung diluncurkan. Dana tesebut diberikan sebagai dana untuk studi konsep selama sembilan bulan sebagai tahap seleksi lanjutan di bawah program heliofisika.

Mengutip MenaFN, program heliofisika NASA merupakan suatu program yang bertujuan untuk “mengeksplorasi sistem energi, partikel, dan medan magnet raksasa yang saling berhubungan yang mengisi ruang antarplanet.”

Baca juga: Masya Allah, Tanda-Tanda Kiamat Dijelaskan dalam Alquran dan Sains

Ketiga sistem ini akan terus berubah bergantung pada matahari dan ruang di sekitar Bumi, dan inilah yang akan diteliti. Sehingga mana yang paling potensial dengan program heliofisika, itulah yang diluncurkan pada masa yang akan datang.

“Baik itu melihat fisika bintang kita, mempelajari aurora, atau mengamati bagaimana medan magnet bergerak melalui ruang angkasa, komunitas heliofisika berusaha untuk mengeksplorasi sistem ruang di sekitar kita dari berbagai sudut pandang. Kami dengan hati-hati memilih misi untuk menyediakan sensor yang ditempatkan dengan sempurna di seluruh tata surya, masing-masing menawarkan perspektif kunci untuk memahami ruang yang semakin dilalui oleh teknologi manusia dan manusia,” ucap Nicky Fox, Direktur Divisi Heliofisika di Direktorat Misi Sains NASA, dikutip MenaFN.

Merangkum Engadget, berikut ini lima misi paling potensial yang akan melakukan studi konsep di bawah program heliofisika

1. Solar-Terrestrial Observer for the Response of the Magnetosphere (STORM)

Disampaikan Thomas Zurbuchen, STORM akan dipimpin oleh David Sibeck dari NASA Goddard di Greenbelt, Maryland. Proposal satu ini akan berfokus pada magnetosfer dan pengaruh antar wilayah. Dengan fokus itu, proposal STORM menjanjikan “pandangan global pertama tentang sistem cuaca luar angkasa kita yang luas” menggunakan beberapa alat.

2. HelioSwarm: The Nature of Turbulence in Space Plasmas

Proposal ini dipimpin oleh Harlan Spence dari University of New Hampshire di Durham. Berbeda dengan STORM, HeliSwarm akan berfokus pada angin matahari yang diamati dari berbagai skala. Untuk melakukan pengukuran skala, proposal ini akan mengandalkan sebuah pesawat luar angaksa bernama Smallsat.

3. Multi-slit Solar Explorer (MUSE)

Dipimpin oleh Bart De Pontieu dari Lockheed Martin di Palo Alto, California. Proposal ini akan berfokus pada peristiwa yang terjadi di atmosfer matahari beserta dengan penyebabnya. Ini termasuk letusan matahari dan peristiwa lainnya. Menggunakan teknik spektroskopi, MUSE menjanjikan pengamatan “irama tinggi dari mekanisme yang menggerakkan serangkaian proses dan peristiwa".

4. Auroral Reconstruction CubeSwarm (ARCS)

Dipimpin oleh Kristina Lynch dari Dartmouth College di Hanover, New Hampshire. Sama seperti STORM, proposal ARCS berfokus pada magnetosfer. Ini menjanjikan “gambaran komprehensif tentang driver dan respons sistem aurora ke dan dari magnetosfer.” Untuk mendapatkan hasil itu, Kristina Lynch dan rekannya akan mengandalkan 32 CubeSat dan 32 observatorium darat.

5. Solaris: Revealing the Mysteries of the Sun’s Poles

Terakhir dari kelima proposal adalah Solaris yang dipimpin oleh Donald Hassler dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado. Berbeda dari yang lainnya, Solaris akan berfokus pada fisika dasar antara matahari dan bintang, salah satunya perihal medan magnet dan evolusi matahari.

Untuk mendapatkan hasil, Donald Hassler dan rekannya akan melakukan pengamatan terhadap “kutub matahari dan mengumpulkan data tentang cahaya, medan magnet, dan pergerakan di permukaan matahari.”

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini