5 Teknologi untuk Tangani Covid-19, 3D Printing hingga VR

Farah Azka Gazali, Jurnalis · Kamis 03 September 2020 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 03 16 2272178 5-teknologi-untuk-tangani-covid-19-3d-printing-hingga-vr-YaBrt28tEP.jpg Ilustrasi virtual reality. (Foto: Unsplash)

PANDEMI virus corona (covid-19) tidak hanya mendorong kecepatan peneliti untuk membuat vaksin, tetapi juga kesediaan teknologi yang memadai. Ini termasuk teknologi yang dapat digunakan dalam penanganan medis melawan pandemi. Di mana kini dunia kesehatan telah beralih menjadi penanganan medis digital, baik alat maupun aplikasi.

Merangkum dari Medical Futurist, Kamis (3/9/2020), berikut lima inovasi teknologi yang digunakan dalam menghadapi virus corona (covid-19):

1. 3D Printing

Teknologi satu ini bukan hal baru, beberapa menggunakannya untuk menciptakan barang dengan cepat dan mudah. Namun untuk dunia medis, hal ini menjadi inovasi untuk memproduksi alat pelindung diri (APD) maupun alat kesehatan lain yang sulit didapat.

Salah satunya berasal dari Spanyol, Coronavirus Makers menyediakan jasa cetak 3D untuk membantu memproduksi masker hingga ventilator mekanis yang dapat digunakan untuk gejala lebih ringan.

Selain Coronavirus Makers, ada pula startup asal Italia bernama The Fab Lab yang menciptakan komponen berupa katup untuk menghubungkan respirator ke masker oksigen. Adapula Formlabs yang memproduksi "Nasopharyngeal Swabs" –tes nasofaring– dan Materialise yang memproduksi "add-on handsfree" untuk pegangan pintu guna mencegah penularan covid-19.

Baca juga: Cara Mudah Bersihkan Komputer agar Terhindar dari Covid-19 

2. Telemedicine

Teknologi satu ini juga bukan hal baru. Di Indonesia salah satu yang cukup terkenal adalah aplikasi Halo Doc. Aplikasi ini menjadi alternatif ketika seseorang tidak dapat mengunjungi dokter secara langsung atau menginginkan penanganan yang cepat dan mudah.

Awal mulanya hal seperti ini tidak begitu marak, namun semenjak kasus covid-19 yang menuntut physical distancing, ini menjadi solusi yang cukup baik. Medical Futurist melaporkan, untuk wilayah Amerika Serikat –yang juga memiliki lonjakan tinggi– hal ini menjadi pilihan masyarakat.

Salah satu yang cukup terlihat adalah Telemedicine melalui Amwell yang meningkat 158 persen dan Plushcare sebanyak 70 persen. Dengan peningkatan ini, telemedicine juga kini menyediakan penilaian risiko covid-19 jarak jauh.

Baca juga: Google dan Apple Rilis Sistem Pelacakan Covid-19, Ini Cara Kerjanya 

3. Smartphone Tracking

Ponsel pintar menjadi teknologi yang dekat dengan masyarakat modern dan nyatanya dapat membantu medis. Melalui Smartphone Tracking, baik pemerintah maupun masyarakat dapat memantau siapa saja yang berpergian ke lokasi tertentu dan memastikan kepadatan lokasi untuk physical distancing.

Salah satu negara yang menerapkan ini adalah Singapura. Mereka menggunakan teknologi Bluetooth dan sinyal nirkabel untuk melacak pengguna di suatu lokasi. Ada pula Moskow, Rusia, yang merilis QR Code dengan tujuan serupa. Terbaru, raksasa teknologi Apple dan Google merilis sistem ponsel untuk melacak covid-19 di Amerika Serikat dengan iOS 13.7.

Selain Singapura dan Rusia, beberapa negara seperti Korea Selatan, Iran, Israel, Taiwan, Austria, Belgia, Jerman, Italia, dan Inggris Raya juga menggunakan opsi Smartphone Tracking.

4. Artificial Intelligence

Kecerdasan buatan menjadi salah satu yang berjasa dalam penanganan covid-19. Sebagaimana dilaporkan Medical Futurist, teknologi ini berjasa saat ahli epidemologi memberikan peringatan pertama tekait covid-19.

Rumah Sakit Zhongnan di Cina juga menggunakannya untuk melihat CT Scan paru-paru dan memberikan petunjuk tindakan lanjutan. Adapula Barabasilab yang menggunakannya untuk mendapatkan daftar obat potensial untuk uji laboratorium.

Baca juga: Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi pada September 2020, Ini Lokasinya 

5. Virtual Reality

Sebuah studi dari Harvard Business Reviews menunjukkan adanya peningkatan 230 persen dari ahli bedah yang dilatih menggunakan teknologi realitas virtual. Teknologi ini dianggap dapat memberikan simulasi yang lebih beragam dan dapat menumbuhkan empati dari mahasiswa kedokteran.

Dengan simulasi yang beragam, ini dapat meringankan gangguan stress pasca trauma (PTSD) dari kondisi terburuk. Kondisi yang dimaksud adalah "menyaksikan puluhan pasien" di saat pandemi covid-19, kekacauan ini jarang terjadi dan dapat menimbulkan trauma untuk frontliner.

Baca juga: Ini Deretan Fenomena Antariksa Selama September 2020 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini