Peneliti Ungkap Terciptanya Lubang Hitam Raksasa di Luar Angkasa

Farah Azka Gazali, Jurnalis · Jum'at 04 September 2020 14:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 04 16 2272590 peneliti-ungkap-terciptanya-lubang-hitam-raksasa-di-luar-angkasa-wKEfBKGX2X.jpg Lubang hitam di luar angkasa. (Foto: Mark Myers/ARC Center of Excellence for Gravitational Wave Discovery (OzGrav)/New Scientist)

TIM astronomi internasional bekerja sama dengan Laser Interferometer Gravitational-wave Observatory (LIGO) dan Virgo berhasil menemukan lubang hitam baru di luar angkasa. Menariknya lubang hitam ini memiliki ukuran raksasa dibandingkan lubang hitam yang pernah ditemukan sebelumnya.

Melansir Engadget, Jumat (4/9/2020), lubang hitam yang ditemukan umumnya memiliki dua ukuran. Satu berukuran 'Collapsar' yang terbentuk dari ledakan bintang yang hampir mati. Ukuran ini berada pada rentang lima hingga puluhan massa bintang. Sedangkan ukuran lainnya dinamakan 'Supremassive' dan berukuran jutaan hingga miliaran massa matahari.

Baca juga: Ditemukan Lubang Hitam dengan Berat 142 Kali Massa Matahari 

Hal mengejutkan dari temuan ini, sebagaimana dilaporkan New Scientist, lubang hitam tersebut memiliki ukuran 142 massa matahari. Ukuran ini menjadi kasus yang sangat jarang untuk ditemukan, karena ukuran umumnya tidak berada di antara Collapsar dan Supremassive. Selain itu, lubang hitam tersebut kini menjadi yang terbesar yang pernah terdeteksi menggunakan gelombang gravitasi.

Lubang hitam raksasa di luar angkasa. (Foto: IFL Science)

"Pada massa antara 60 dan 130 massa matahari atau lebih, tidak mungkin sebuah bintang berubah menjadi lubang hitam, ia hanya meledak sendiri. Ahli astrofisika berteori bahwa kami tidak akan menemukan lubang hitam di celah ini (antara lubang hitam bermassa bintang dan supermasif) dan kami menemukan setidaknya satu tapi mungkin dua," ucap anggota Tim LIGO Nelson Christensen di Observatorium Nice di Prancis, seperti dikutip New Scientist.

Baca juga: Kilatan Cahaya Muncul saat Terjadi Tabrakan Lubang Hitam 

Untuk menemukan lubang hitam raksasa ini, tim astronomi internasional mengandalkan dua sensor LIGO yang berada di Amerika Serikat dan sebuah sensor Virgo yang berada di Italia. Ketiga sensor itu digunakan karena dapat menciptakan riak di ruang dan waktu –yang disebut gelombang gravitas GW190521– saat benda di ruang angkasa bergerak.

Dalam jurnal Astrophysical Journal Letters yang diterbitkan pada Rabu kemarin, menunjukkan bahwa lubang hitam raksasa ini dibentuk dari sinyal yang terdeteksi pada 21 Mei 2019. Sinyal ini berasal dari sepasang lubang hitam yang berukuran lebih kecil, yakni 65 dan 85 massa matahari, dan termasuk dalam kelas Collapsar. Keduanya berputar ke arah satu sama lain sebelum akhirnya bertabrakan miliaran tahun lalu.

Sinyal ini pada dasarnya sangat kecil, ia hanya terdeteksi selama sepersepuluh detik dengan menampilkan empat garis berlekuk-lekuk. Meski begitu, temuan tersebut cukup membuktikan bahwa lubang hitam raksasa itu bersumber dari hasil tabrakan –atau penggabungan– dua lubang hitam yang lebih kecil. Sehingga jelas ini bukan berasal dari ledakan bintang.

"Kami dapat memastikan bahwa ini berasal dari tabrakan dua lubang hitam. Keduanya sangat besar, sesuatu yang kita tahu bahwa bintang tidak bisa membuat," ucap Dr Karan Jani, dikutip dari Engadget.

Baca juga: Astronom Temukan Metode Baru untuk Mengukur Putaran Black Hole 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini