Suhu Bumi Bertambah Panas, Banyak Spesies Laut Sulit Beradaptasi

Tasya Chrismonita, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 16 2278075 suhu-bumi-bertambah-panas-banyak-spesies-laut-sulit-beradaptasi-mmwWtR5WE9.jpg Ilustrasi spesies bawah laut. (Foto: SGR/Unsplash)

PADA 55 juta tahun yang lalu bumi menjadi lebih panas. Suhunya meningkat 5–8 derajat Celsius (9–14 derajat Fahrenheit) menurut standar geologi. Tetapi sebuah studi baru menujukkan bahwa itu masih versi gerak lambat daripada yang terjadi sekarang.

Karbon yang dilepaskan ke atmosfer kurang dari sepersepuluh tingkat modern. Penelitian menunjukkan sebagian besar emisi purba berasal dari gunung berapi. Demikian seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (15/9/2020).

Baca juga: Satelit NASA Tangkap Gambar Asap Mengepul Akibat Kebakaran Hutan di Amerika 

Meskipun para ilmuwan telah lama mencurigai kekuatan yang mendorong Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM) terjadi selama 1.000 tahun, hal ini sulit untuk dikonfirmasi.

Para peneliti Laura Haynes dan Profesor Barbel Honisch melaporkan bahwa lautan menambahkan sekira 15 kuadriliun metrik ton karbon pada 55,6 juta tahun yang lalu dalam rangkaian 4.000–5.000 tahun.

Meskipun kenaikan suhu lebih besar dari semuanya, keadaan terburuk yang disebabkan oleh manusia skala waktunya jauh lebih lama sehingga laju pemanasan akan lebih lambat. Haynes mencapai kesimpulannya dengan menggunakan alat lama namun cara baru.

Haynes menguji varietas hidup foraminifera di air laut dengan konsentrasi karbon dioksida yang berbeda, dan menemukan keasaman yang lebih besar dari air karbon tinggi mengurangi konsentrasi boron di cangkang foraminifera.

Baca juga: Dua Asteroid Besar Terbang Melintasi Bumi dengan Kecepatan Tinggi 

Dengan mengukur perubahan kelimpahan boron, Haynes dapat melacak tingkat karbon dioksida di lautan Paleosen dengan lebih tepat daripada perkiraan suhu sebelumnya.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Sejumlah Bukti Bumi Tidak Datar 

Setelah menentukan waktu ledakan karbon, peneliti mengambil sampelnya. CO2 vulkanik memiliki rasio karbon isotop yang berbeda dari metana yang membeku di dasar lautan, pelepasannya telah menjadi penjelasan populer untuk PETM, pulsa karbon foraminifera utamanya adalah vulkanik.

Peneliti menyimpulkan kenaikan suhu bumi mungkin cukup melelehkan metana untuk mewakili sekira 8 persen dari total karbon, menciptakan umpan balik sederhana. Meskipun makhluk darat punya waktu untuk beradaptasi, menghindari kepunahan massal, banyak spesies laut tidak dapat mengatasi peningkatan keasaman, dengan bukti bahwa penghuni laut dalam sangat terpengaruh.

Baca juga: Atmosfer Bumi Diduga Penyebab Bulan "Berkarat" 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini