Cara Startup Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Hambali, Jurnalis · Jum'at 18 September 2020 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 18 16 2279745 cara-startup-bertahan-di-tengah-pandemi-covid-19-Sdl1ZJtGsX.jpg (Foto: Livemint)

TANGERANG - Perkembangan dunia startup yang ditopang kemajuan teknologi digital kini terkendala akibat munculnya pandemi Covid-19. Dari data yang dihimpun, sebagian besar pelaku usaha startup tak mampu mempertahankan bisnisnya hingga terpaksa gulung tikar.

Mereka yang masih bertahan adalah pelaku usaha startup yang berani melakukan penyesuaian dari awal perencanaan bisnisnya. Tak mudah memang, namun upaya tersebut setidaknya bisa membuka peluang baru manakala aktivitas masyarakat serba terbatas di masa pandemi.

Seperti dipaparkan Chief Executive Officer Localin, Muhamad Bima Januri, yang menceritakan pengalamannya sempat terkatung-katung merintis usaha startup bersama 4 rekannya. Kata dia, situasi pandemi membuatnya harus bisa menyesuaikan tren perilaku hidup baru ke depan.

"Tantangan terbesar sih harus mengubah beberapa plan bisnis, disesuaikan dengan kondisi sekarang. Lalu mulai memikirkan apa saja trend yang akan muncul ke depannya dengan perilaku hidup yang baru," katanya kepada Okezone, di Tangerang, Kamis (17/9/2020).

Menurut Bima, startup yang dirintis sejak setahun lalu baru bisa diluncurkan saat ini. Itu pun setelah dilakukan perubahan dari konsep awalnya yang memang berkutat pada aktivitas offline, lalu berubah menjadi online. Pembatasan kontak fisik, dimanfaatkannya sebagai peluang bagi pengembangan startup ke depan.

"Setahun itu proses development, Maret selesai tapi karena pandemi baru bisa kita mulai sekarang. Awalnya kita akan fokus ke aktivitas offline, sekarang lebih fokus ke aktivitas online," jelasnya.

Dia pun bercerita bagaimana startup yang digelutinya itu merambah fitur yang kini memang sangat dicari informasinya oleh masyarakat, salah satunya soal komunitas. Di sana disediakan media guna mengatasi kejenuhan masyarakat untuk bisa berinteraksi satu sama lain namun tidak menimbulkan risiko penyebaran Covid-19.

 Perkembangan dunia startup yang ditopang kemajuan teknologi digital kini terkendala akibat munculnya pandemi Covid-19.

Baca juga: Sejarah Singkat Mengenai Perkembangan Komputer

"Menurut kami, peluang itu bisa kami gali untuk membantu pengguna untuk membuat, mengembangkan, atau menemukan komunitas yang diinginkan, juga berbagi informasi dan mengatur kegiatan untuk anggota komunitasnya masing-masing," ucapnya.

Dilanjutkannya, berdasarkan hasil riset internal didapat pengakuan jika banyak komunitas mengharapkan adanya fitur yang memudahkan mereka berinteraksi dan berkegiatan namun aman dari Covid-19. Survei internal menyebut, 51,4 persen responden sedang bergabung dengan satu atau lebih komunitas. Sedang sisanya baru berencana bergabung dengan komunitas di masa depan.

"Kebanyakan responden kami menganggap belum pernah ada platform yang bisa mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan komunitas mereka. Kami mendata untuk kemudian mewujudkan semua keinginan mereka," tambahnya.

Sementara itu, pelaku startup Scrapiro, Tommy Hartono, mengutarakan pula pengalamannya tetap eksis di masa pandemi saat ini. Kata dia, banyak aktivitas kontak fisik secara langsung yang saat ini mulai dibatasi, hingga lebih mendorong pada kegiatan online.

"Jadi kita ingin mengenalkan daur ulang di ranah pendidikan, sehingga nantinya anak kecil pun tahu, bahwa sampah mana saja yang bisa didaur ulang. Karena situasi pandemi, kita harus menyiasati agar usaha ini terus berjalan dengan membatasi aktivitas kontak offline," tuturnya.

Scrapiro sendiri merupakan startup yang fokus pada isu sosial pengelolaan sampah. Mereka memberikan edukasi soal bagaimana memanfaatkan sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Startup itu, kata dia, terus bertahan karena memberi dampak langsung kepada masyarakat tanpa harus bergantung pada keuntungan materi.

"Padahal dari botol air mineral itu, tutup botol, plastik segel, dan botol bisa diproduksi. Nilai paling tinggi itu ada pada botol yang bening. Mesin daur ulangnya juga banyak dan murah. Tetapi kita yang kurang informasi soal itu. Karena kita punya misi sosial juga, jadi ya kita tetap jalan tanpa semata-mata hanya berharap pada profit," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini