Pertama Kalinya Astronom Temukan Aurora di Sekitar Komet

Tasya Chrismonita, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 16 2282445 pertama-kalinya-astronom-temukan-aurora-di-sekitar-komet-gGpjooosLn.jpg Ilustrasi aurora di sekitar komet. (Foto: Kristopher Roller/Unsplash)

PARA astronom menemukan bahwa komet ternyata dapat memiliki aurora. Mereka mengatakan muatan partikel cahaya itu terlihat pada benda langit lain di tata surya yakni komet.

Melansir dari IFL Science, Rabu (23/9/2020), dalam peneliti ini para astronom internasional tersebut menggunakan data dari misi Rosetta Badan Antariksa Eropa di Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko.

Baca juga: Dekati Matahari, NASA Tangkap Gambar Komet SungrazerĀ 

Dalam laporan Nature Astronomy, mereka menemukan bahwa komet tersebut memiliki pancaran ultraviolet yang dibuat oleh partikel bermuatan yang datang dari matahari.

Menurut Dr Joel Parker dari Southwest Research Institute, awalnya diduga emisi ultraviolet di Komet 67P adalah fenomena yang dikenal sebagai "dayglow", sebuah proses yang disebabkan foton matahari yang berinteraksi dengan gas komet.

Tetapi ternyata emisi UV itu adalah aurora, bukan didorong oleh foton, tetapi oleh elektron dalam angin matahari yang memecah air dan molekul lain dalam keadaan koma serta telah dipercepat di lingkungan terdekat komet. Atom-atomnya tereksitasi lalu membuat cahaya yang khas tersebut.

Aurora di Bumi dan planet seperti Jupiter adalah hasil dari medan magnet. Lalu di Planet Mars sebaliknya, terjadi tanpa medan magnet, dan dihasilkan dari proton matahari yang mengenai atmosfer tipis "Planet Merah".

Baca juga: LAPAN Ungkap Foto Penampakan Komet NEOWISE di Langit IndonesiaĀ 

Komet 67P tidak memiliki atmosfer, tetapi memiliki koma, selubung gas kabur yang dihasilkan oleh pelepasan gas yang terperangkap di inti es komet. Ketika elektron dari angin matahari mengenai gas ini akan menghasilkan aurora.

Guna mendeteksi cahaya tersebut tidak mudah, astronom harus menggabungkan setiap instrumen dari Rosetta untuk mempelajarinya. Cahaya yang tidak seperti biasa terlihat di lintang yang lebih tinggi di Bumi.

"Cahaya di sekitar 67P/CG adalah satu-satunya. Dengan menggali data dari berbagai instrumen di Rosetta dan menghubungkannya, kami menemukan bahwa cahaya ini bersifat aurora: disebabkan oleh campuran proses, beberapa terlihat di Bulan Jupiter Ganymede dan Europa serta lainnya di Bumi dan Mars," jelas Profesor Marina Galand, penulis utama studi baru ini dari Departemen Fisika di Imperial, dalam sebuah pernyataannya.

Baca juga: Bisa Terlihat di Indonesia, Komet Neowise Ternyata Miliki 2 EkorĀ 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini