Ilmuwan Sebut Peristiwa Beirut sebagai Ledakan Non-Nuklir Terbesar

Anjasman Situmorang, Jurnalis · Rabu 07 Oktober 2020 18:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 07 16 2289854 ilmuwan-sebut-peristiwa-beirut-sebagai-ledakan-non-nuklir-terbesar-4N7EARUbWd.jpg Ledakan di Kota Beirut, Lebanon. (Foto: Twitter @tommynival)

HASIL penelitian terbaru mengungkapkan ledakan yang terjadi di Kota Beirut, Lebanon, beberapa waktu lalu merupakan ledakan terbesar non-nuklir terbesar dalam sejarah.

Para insinyur dari Universitas Sheffield di Inggris memperkirakan ledakan pada 4 Agustus itu setara dengan letusan 500 hingga 1.100 ton TNT. Ledakan ini dinilai sekira 1/20 dari ukuran bom atom yang dijatuhkan di Hirosima, Jepang.

Baca juga: Netizen Riuh Keluhkan Internet Mati pada Pukul 11.40 WIB 

Hal ini berdasarikan hasil penelitian kelompok riset dari Blast and Impact Engineering. Mereka mempelajari video ledakan yang tersebar melalui media sosial dan memperkirakan kekuatan ledakan saat gelombang kejut menyebar ke seluruh Ibu Kota Lebanon.

Ledakan yang disebabkan 3.000 ton amonium nitrat tersebut menewaskan 193 orang, 6.500 orang terluka, pelabuhan dan bangunan lainnya rusak hingga kerugian ditafsir miliaran dolar.

Hanya hitungan milidetik, ledakan itu melepaskan energi setara 1GWh. "Ini sama dengan energi per jam yang dihasilkan oleh 3 juta panel surya atau 400 turbin angin," jelas hasil penelitian tersebut, sebagaimana dikutip dari Fox News, Rabu (7/10/2020).

Dosen senior Blast and Impact Engineering di University of Sheffield, Dr Sam Rigby, mengatakan ingin menggunakan keahliannya di bidang teknik ledakan untuk membantu memahami apa yang sebenarnya terjadi di Beirut. Hal ini sekaligus memberikan data untuk persiapan apabila ledakan serupa terjadi lagi.

Baca juga: Kisah Haru, Seorang Perempuan Tulis Obituari Anjing Kesayangannya di Koran Lokal

"Dengan memahami lebih banyak kekuatan ledakan tidak disengaja berskala besar seperti yang terjadi di Beirut, kami dapat mengembangkan prediksi yang akurat tentang bagaimana pengaruhnya terhadap bangunan dan jenis cedera yang mungkin terjadi berdasarkan jarak dari ledakan," kata Sam.

Ledakan Beirut terjadi ketika Lebanon bergulat dengan kondisi ekonomi dan keuangan yang buruk dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini semakin diperburuk dengan wabah virus corona (covid-19).

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini