Kisah Ilmuwan Bimbing Perempuan Petani Gunakan Teknologi untuk Ekspor

Agregasi VOA, Jurnalis · Kamis 08 Oktober 2020 21:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 08 16 2290696 kisah-ilmuwan-bimbing-perempuan-petani-gunakan-teknologi-untuk-ekspor-Ka2Z9NiYB1.jpg Ilustrasi perempuan petani. (Foto: Unsplash)

TEKNOLOGI kini dapat digunakan hampir di semua lini kehidupan. Mulai di dalam rumah hingga sektor pekerjaan yang berada di luar ruangan. Pasalnya melalui kecanggihan teknologi segala aktivitas akan dapat diselesaikan dengan cepat dan berkualitas. Salah satu bidang yang turut menerapkan teknologi adalah pertanian.

Petani dan perempuan merupakan kelompok masyarakat yang sering menghadapi tantangan dalam hidup karena ketiadaan pengetahuan dan akses teknologi. Ilmuwan Muda Indonesia (IMI) pun coba menjadi jembatan itu untuk mengatasi kesenjangan kehidupan petani dan perempuan.

Baca juga: Pecahkan Rekor! Kerangka T-Rex Dilelang Ratusan Miliar Rupiah 

Para ilmuwan tersebut terdiri dari sekelompok pemuda yang fasih teknologi. Ketika mengetahui banyak petani dan perempuan yang masih jauh dari sentuhan teknologi, mereka berupaya meningkatkan kehidupan dengan menawarkan pemanfaatan teknologi. Salah satu yang mereka tawarkan adalah "Tanihood".

"Kebanyakan mereka adalah petani yang belum pernah ekspor. Mereka perlu tahu standar keamanan pangan seperti apa, buyer itu karakteristiknya seperti apa? Yang paling penting juga adalah bagaimana mengumpulkan informasi yang benar tentang produknya agar bisa disampaikan ke pembeli," ujar Firly Savitri, salah satu pendiri Tanihood, seperti dikutip dari VOA, Kamis (8/10/2020).

Perempuan petani di NTT belajar aplikasi Her Venture. (Foto: JarPUK NTT/VOA)

Tanihood adalah website yang menghubungkan sejumlah petani dan beberapa kelompok tani Indonesia langsung ke pembeli. Mereka menyasar bukan hanya pembeli dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Situs itu juga mengembangkan digital marketing supaya petani tidak terpaksa menjual hasil panen mereka kepada tengkulak.

Sebelum ekspor produk pertanian dilakukan, mengedukasi para petani selama 12–18 bulan menjadi tantangan bagi perusahaan berbasis teknologi itu. Setelah mendapatkan data kelompok tani yang berpotensi ekspor dari Departemen Pertanian, community development turun ke lapangan dan tinggal bersama petani agar dapat memberi dampak terhadap kehidupan petani, baik secara sosial maupun ekonomi.

Baca juga: Kuburan Penguin Purba Berusia 5.000 Tahun Ditemukan di Antartika 

Sejumlah petani kopi, misalnya, dilatih agar mengetahui cuping score, uji cita rasa kopi, harga kopi sejenis di pasaran, dan pengemasan agar dapat dijual dengan standar harga produk ekspor premium. Beberapa kelompok tani juga dilatih sertifikasi good manufacturing practices (GMP) dan sertifikasi organik internasional.

Firly menegaskan fair trade yang diterapkan mencontoh perusahaan yang punya nilai seperti di Eropa yang menghargai jerih payah petani. "Mereka (petani) bisa lihat bahwa keuntungan paling besar adalah harga buat mereka, bukan buat marketingnya. Selama ini kan kebalik ya, mereka yang dapat nilai paling kecil, sementara orang jualnya bisa berkali lipat," jelas Firly Savitri kepada VOA.

Etik Rasau, petani di Kalimantan Barat, coba mengikuti perkembangan teknologi untuk mengembangkan diri. Ia menggunakan her venture, aplikasi pelatihan bagi kaum perempuan. Her venture mengajarkan strategi dalam memulai, membangun, dan menjaga usaha tetap berjalan. Walaupun didampingi Yayasan Dian Tama, Etik dan beberapa perempuan petani yang berjualan di Pontianak mengaku masih awam terhadap aplikasi ponsel tersebut.

"Hanya beberapa perempuan petani punya HP Android walaupun sudah punya usaha kecil kripik olahan. Sinyal HP juga susah," jelas Etik Rasau.

Baca juga: Nobel Kimia 2020 Diraih 2 Wanita Penemu Metode Gunting Genetika 

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak semua perempuan anggota Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (JarPUK) mempunyai ponsel Android. Isu lain yang mereka hadapi adalah pulsa data lebih sering digunakan untuk media sosial.

Yustin, pendamping JarPUK, menawarkan solusi. "Jadi cara yang dilakukan yaitu satu ibu yang pakai HP Android bisa belajar bersama dengan dua atau tiga orang ibu yang lain dalam satu kelompok," jelasnya.

Teknologi seperti aplikasi her venture memungkinkan perempuan petani terampil menggunakan ponsel. Keterampilan itu membuat mereka tetap bisa berniaga meskipun dalam situasi pandemi dan umumnya berjualan dari rumah. Yustin menjelaskan lebih jauh.

"Ilmu yang didapat dari her venture ini sangat membantu mereka dalam menganalisis usaha yang potensial dengan kekuatan lokal, dan potensi lokal apa yang menjadi pilihan yang tepat ketika mereka mengambil keputusan untuk berusaha," paparnya.

Menurut Firly, tantangan pencarian kata kunci produk pertanian Indonesia dalam search engine optimization (SEO) untuk pasar global, diatasi dengan konsultan digital marketing dari luar negeri, karena beberapa perusahaan besar Indonesia hanya mampu mengerjakan di pasar lokal.

Baca juga: Peraih Nobel Fisika Ungkap Lubang Hitam Miliki Gravitasi Sangat Besar 

Ketika permasalahan SEO produk pertanian itu terselesaikan dan membuahkan hasil, sejumlah pemesanan secara daring mengalami kendala di tengah pandemi virus corona (covid-19), mulai pembatalan hingga penundaan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Sejak Agustus 2020, Tanihood melanjutkan sejumlah penawaran dan negosiasi yang tertunda pada awal wabah virus corona merebak. Kini jumlah produk pertanian Indonesia lebih banyak diekspor semasa pandemi hingga ke pasar Asia dan Amerika Utara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini