Bulan Memantulkan Cahaya Matahari Dijelaskan dalam Alquran dan Sains

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 05:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 16 2290788 bulan-memantulkan-cahaya-matahari-dijelaskan-dalam-alquran-dan-sains-SHvKtb29PZ.jpg Bulan. (Foto: Freepik)

BULAN adalah satelit alami dan satu-satunya milik Bumi. Bulan menjadi satelit alami terbesar di tata surya menurut ukuran planet yang diorbitnya. Bulan memiliki diameter 27 persen, kepadatan 60 persen, dan massa ¹⁄₈₁ dari Bumi.

Lalu bulan dipercaya dapat memancarkan cahaya sendiri. Namun, ilmu pengetahuan belakangan memberitahukan manusia bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari.

Baca juga: Alquran dan Sains Jelaskan Peredaran Darah serta Produksi Susu 

Dalam buku 'Alquran vs Sains Modern Menurut Dr Zakir Naik' karya Ramadhani dan kawan-kawan dijelaskan bahwa kitab suci Alquran yang diturunkan sekira 1.400 tahun lalu telah menyebutkan terkait matahari dan bulan yang bercahaya.

"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya," isi Surah Al Furqan Ayat 61.

Dalam bahasa Arab yang ada di Alquran, penyebutan untuk matahari adalah Syams. Disebut juga sebagai Siraaj yang berarti 'obor' atau sebagai Wahhaaj yang berarti 'lampu menyala' atau sebagai Diya yang berarti 'bersinar kemuliaan'.

Baca juga: Alquran dan Sains Jelaskan Fenomena Bulan Terbelah 

Ketiga deskripsi tersebut tepat untuk menyebut matahari, karena menghasilkan panas dan cahaya yang hebat oleh pembakaran di dalamnya. Sementara kata dalam bahasa Arab untuk menyebut bulan adalah Qamar, dan dijelaskan dalam Alquran sebagai Muneer, yaitu tubuh yang memberikan cahaya (nur).

Dari sini terlihat bahwa penjelasan Alquran sempurna dan sesuai dengan sifat sebenarnya dari bulan yang tidak mengeluarkan cahaya sendiri, melainkan hanyalah sebuah tubuh tak berdaya yang memantulkan sinar dari matahari.

Dalam Alquran tidak ada sama sekali yang menyebutkan bulan sebagai siraaj, wahhaaj, atau diya. Begitupun dengan matahari, tidak pernah Alquran menyebutnya sebagai nur atau muneer.

Baca juga: Alquran dan Sains Ungkap Manfaat Simbiosis bagi Hewan 

Dengan demikian, berarti Alquran mengakui perbedaan sifat antara sinar matahari dan cahaya bulan. Salah satu ayat Alquran juga menjelaskan tentang sifat sinar matahari dan cahaya bulan.

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui," terang Surah Yunus Ayat 5.

Wallahu a'lam bishawab.

Baca juga: Alquran dan Sains Lengkap Menjelaskan Proses Turunnya Air Hujan 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini