Diragukan Sejumlah Pihak, Warga Norwegia Temukan Cara Kendalikan Badai Laut

Anjasman Situmorang, Jurnalis · Selasa 13 Oktober 2020 15:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 13 16 2292938 diragukan-sejumlah-pihak-warga-norwegia-temukan-cara-kendalikan-badai-laut-sKLcFUjez5.jpg Ilustrasi badai laut. (Foto: Samuel Ferrara/Unsplash)

SEORANG warga negara Norwegia bernama Olav Hollingsaeter mencoba strategi baru yang disebut Bubble Curtain (Tirai Gelembung) untuk mengendalikan badai laut. Banyak pakar badai yang masih ragu terhadap teori ini, namun tidak mematahkan semangat Hollingsaeter untuk membuktikannya.

Sebelumnya sudah ada beberapa ide untuk menghentikan badai laut. Mulai dari gelombang laut, gas sulfat, hingga bom nuklir. Ini menjadi cara meredam badai yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Baca juga: Terekam Aksi Heroik Monyet Capuchin Selamatkan Temannya dari Ular Boa 

Sementara ide Tirai Gelembung tersebut didasarkan pada pipa berlubang yang akan menggunakan udara bertekanan untuk mendorong air laut dingin ke permukaan memotong air hangat yang dibutuhkan badai tropis.

Hollingsaeter mengumpulkan dana USD4 juta atau sekira Rp59 juta untuk proyek percontohan dua tahun di Teluk Meksiko. Demikian laporan South Florida Sun-Sentinel, sebagaimana dikutip dari Fox News, Selasa (13/10/2020).

Mantan perwira Angkatan Laut Norwegia ini ingin memasarkan teori tersebut melalui perusahaannya OceanTherm. Gagasan Hollingsaeter menempatkan pipa di laut saat badai mulai menguat.

Dia mengatakan untuk menurunkan suhu air permukaan hingga di bawah 80 derajat, Tirai Gelembung ditempatkan 400 kaki di bawah permukaan air.

Baca juga: Oppo Reno 4F Dirilis Jadi Penantang Poco X3 

"Sistem kami mungkin bisa menelan biaya hingga 200 juta dolar untuk sekali musim badai," kata Olav.

Para ahli memiliki dua alasan besar untuk tidak menyetujui ide Olav. Beberapa orang menunjukkan bahwa badai sudah membawa air dingin saat mereka tumbuh. Sedangkan yang lainnya berpendapat teknologi tersebut lebih baik digunakan untuk membantu membawa oksigen kembali ke "zona mati" di lautan yang tidak dapat lagi mendukung kehidupan karena berbagai polusi seperti tumpahan minyak.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini