Ilmuwan Ungkap Suku Maya Gunakan Filter Air Canggih Ribuan Tahun Lalu

Anjasman Situmorang, Jurnalis · Senin 26 Oktober 2020 16:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 26 16 2299770 ilmuwan-ungkap-suku-maya-gunakan-filter-air-canggih-ribuan-tahun-lalu-gVgCPBx0v8.jpg Peninggalan Suku Maya di Guatemala Utara. (Foto: Perry Grone/Unsplash)

PARA arkeolog menemukan Kota Suku Maya yang besar di Guatemala Utara. Di sana ditemukan sisa-sisa pengangkut zeolit untuk penyaringan air ribuan tahun lalu. Sistem filter air ini dinilai sudah canggih.

Salah seorang peneliti, Dr Kenneth Tankerslay, dari Universitas Cincinnati menemukan kristal kuarsa dan zeolit saat menggali di Waduk Corriental. Ini menjadi salah satu sumber air minum di Tikal.

Baca juga: Arkeolog Temukan Mumi Hewan Llama Berusia 500 Tahun 

Kenneth mengamati kombinasi kuarsa dan zeolit akan mengilangkan beberapa patogen dari pasokan air, termasuk logam berat, senyawa kaya nitrogen, dan bakteri. Ini merupakan upaya untuk menghilangkan bakteri dan kotoran lainnya.

"Sistem ini masih akan efektif sekarang dan Suku Maya menemukannya lebih dari 2.000 tahun lalu," kata Kenneth, seperti dikutip dari IFL Science, Senin (26/10/2020).

Batu kapur berpori tempat duduk Tikal, di tempat yang sekarang menjadi Guatemala Utara, tidak cocok dijadikan sumur untuk menyimpan air saat musim kemarau. Jadi, akses ke air bersih akan menjadi sangat penting.

Satu dekade lalu, rekan penulis bernama Nicholas Dunning melaporkan penemuan batuan vulkanis yang dikenal sebagai tufa, kaya akan kuarsa dan zeolit.

"Itu mengeluarkan air dengan kecepatan yang baik. Pekerja mengisi ulang botol air mereka dengan itu. Tempat itu terkenal secara lokal karena bersih dan manisnya air," kata Nicholas.

Baca juga: Gambar Kucing Raksasa Berusia 2.000 Tahun Ditemukan di Nazca Peru 

Endapan tufa mungkin menghasilkan air yang sama baiknya dengan air ribuan tahun lalu. Ilmuwan telah mengidentifikasi bahwa bahan pembuatnya dapat menyaring dengan sangat efektif.

Mineral di Situs Dunning sama dengan yang ada di Waduk Corriental, tetapi tidak ada yang lagi yang serupa ditemukan di Situs Tikal lainnya. Hal ini termasuk dua waduk lain yang digali oleh tim, menunjukkan bahwa mineral tersebut ditambang dan diangkut sejauh 30 kilometer ke kota.

Mineral pertama kali muncul di waduk sekira 2.200 tahun lalu dan diisi kembali setelah banjir bandang hingga kota itu ditinggalkan lebih dari 1.000 tahun kemudian. Sistem penyaringan air lebih tua telah ditemukan di Mesir, Asia Selatan, dan Yunani, namun versi Tikal ini lebih unggul.

Zeolit digunakan untuk memurnikan air karena pori-porinya berukuran baik untuk menyaring mikroba seperti cyanobacteria. Gunung berapi di wilayah itu membuat Suku Maya mendapat mineral yang cukup. Namun, hal ini juga meninggalkan konsentrasi merkuri yang tinggi di wilayah tersebut.

Baca juga: Arkeolog Temukan Kuburan Massal di Jepang, Ada 1.500 Jenazah Terkubur dalam Lubang Sempit

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini