Peneliti Rancang Drone Khusus untuk Deteksi Letusan Gunung Berapi

Anjasman Situmorang, Jurnalis · Rabu 04 November 2020 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 16 2303686 peneliti-rancang-drone-khusus-untuk-deteksi-letusan-gunung-berapi-ucbRXboec9.jpg Ilustrasi drone. (Foto: Jason Blackeye/Unsplash)

PARA peneliti merancang drone yang diadaptasi khusus untuk membantu mengumpulkan data dari aktivitas Gunung Berapi Manam di Papua Nugini. Drone itu dapat membantu komunitas lokal memantau keadaan gunung berapi aktif tersebut dan memprediksi letusannya di masa depan.

Gunung Berapi Manam terletak di sebuah pulau seluas 10 kilometer (6 mil) di lepas pantai timur laut Papua Nugini. Di pulau itu terdapat setidaknya 9.000 orang dan Manam Motu (sebutan lokal) merupakan gunung paling aktif di negara ini.

Baca juga: Militer Amerika Rancang Sistem Pengisian Daya Drone secara Otonom 

Pada 2004, Gunung Manam pernah meletus yang memaksa warga pulau tersebut mengungsi ke daratan. Peristiwa itu mendorong para ilmuwan mencoba beberapa cara memperkirakan kapan gunung berapi ini akan meletus.

Mereka dapat memantau aktivitas gempa di daerah tersebut untuk mendeteksi getaran sebelum letusan terjadi serta mencari di dinding miring gunung saat magma menumpuk di bawahnya.

Jika langit cerah, satelit juga dapat dengan cepat mendeteksi dan mengukur emisi gas vulkanik seperti sulfur dioksida (SO2).

"Manam belum dipelajari secara rinci, namun kami dapat melihat dari satelit bahwa dia menghasilkan emisi yang kuat," kata Emma Liu, ahi vulkanologi yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (4/11/2020).

Baca juga: Gunakan Drone, Cara Unik Penggembala Sapi Kumpulkan Ternak 

Saat datang ke Papua Nugini pada Oktober 2018 dan Mei 2019, tim peneliti mulai menguji dua jenis drone jarak jauh yang dilengkapi sensor gas, kamera, dan perangkat lain. Pesawat tak berawak itu terbang lebih dari 2.000 meter tingginya ke gumpalan vulkanik Manam.

Gambar udara dari drone menunjukkan bahwa degassing di kawah selatan Manam meningkat antara Oktober 2018 hingga Mei 2019. Faktanya, gunung tersebut meletus pada Juni, tepat satu bulan setelah kunjungan lapangan kedua peneliti.

Mengintegrasikan pengukuran drone mereka dengan data satelit, para peneliti dapat menunjukkan bahwa Manam berada di antara 10 gunung berapi degassing terkuat di dunia yang mengeluarkan sekira 3.700 ton CO2 dan 5.100 ton SO2 setiap hari.

Baca juga: Pengiriman Paket Belanja Online Pakai Drone Bakal Jadi Kenyataan 

"Pendekatan dengan drone jarak jauh merupakan satu-satunya cara yang memungkinkan kami gunakan untuk mengarakterisasi kimia gas di gunung berapi yang curam, berbahaya, dan sangat aktif seperti Manam," kata tim peneliti.

Pengukuran yang dilakukan oleh drone tersebut juga dapat memberi tahu tentang gunung berapi yang paling tidak dapat diakses dan sangat aktif di planet ini. Dengan 300 gunung berapi aktif di Bumi tentu bukan hal yang mudah untuk memantau dan mengirim peringatan dini sebelum meletus.

Baca juga: Indonesia Kembangkan Pesawat Drone, Bisa Terbang 24 Jam 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini