Studi Baru: Mars Miliki Banyak Air Sebelum Ada Kehidupan di Bumi

Hantoro, Jurnalis · Rabu 11 November 2020 11:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 11 16 2307750 studi-baru-mars-miliki-banyak-air-sebelum-ada-kehidupan-di-bumi-u5zGhh7N9S.jpg Planet Mars. (Foto: NASA/JPL-Caltech/Science Alert)

SEBUAH studi baru mengungkap Planet Mars sekira 4,4 miliar tahun lalu memiliki banyak air. Ini menunjukkan waktu yang jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Kemudian air yang dimiliki Planet Merah itu ternyata sudah ada sebelum muncul kehidupan di Bumi. Sayangnya, terus terjadi penguapan terhadap air-air di sana.

Hal ini diungkapkan para ilmuwan berdasarkan analisis meteorit NWA 7533 yang ditemukan meteorit di Gurun Sahara. Mereka menyatakan meteorit tersebut berasal dari miliaran tahun lalu di Mars. Oksidasi di dalam meteorit pada mineral tertentu mengisyaratkan keberadaan air.

Baca juga: Astronom Temukan Kembaran Bulan di Dekat Mars 

Temuan ini bisa mundur sekira 700 juta tahun dari perkiraan tanggal pembentukan air di Mars, atau dari jangka waktu 3,7 miliar tahun yang telah menjadi konsensus hingga sekarang. Penelitian ini juga dapat memberikan beberapa wawasan tentang bagaimana bentuk Planet Merah itu pertama kali.

"Ini pertama kalinya saya menyelidiki meteorit khusus ini yang dijuluki 'Kecantikan Hitam' karena warnanya yang gelap," kata ilmuwan planet Takashi Mikouchi dari Universitas Tokyo, Jepang, seperti dikutip dari Science Times, Rabu (11/11/2020).

Baca juga: Waspadalah, 3 Tanda Depresi yang Mungkin Anda Tak Sadari

Para ahli menggunakan empat jenis analisis spektroskopi untuk mendeteksi sidik jari kimia dalam sampel NWA 7533. Penemuan ini membuat tim ilmuwan menarik beberapa kesimpulan menarik.

Kisah air di planet dan bulan sangat menarik bagi para ilmuwan planet. Salah satu ketidaktahuan besar adalah apakah air ditambahkan ke tubuh planet setelah terbentuk, melalui efek asteroid dan komet, atau apakah itu terjadi secara alami selama proses pembentukan planet.

Bagaimana Meteorit Dapat Mengetahui Waktu?

Batuan kuno seperti NWA 7533 dapat membantu para peneliti mengintip ke masa lalu dan mencari tahu saat mereka merekam peristiwa tabrakan di planet tempat asalnya dan menangkap beberapa komposisi mineral dan kimia permukaan saat dibuat.

Baca juga: SpaceX Akan Bangun Jaringan Internet di Planet Mars 

Dalam hal ini, tanda air adalah oksidasi. Ini adalah catatan tertua Mars yang dimiliki dengan fragmen spesifik dalam NWA 7533 tertanggal 4,4 miliar tahun lalu.

"Jepitan beku, atau batuan yang terfragmentasi, terbentuk dari magma di meteorit dan umumnya disebabkan oleh benturan dan oksidasi," kata Mikouchi, "Oksidasi ini bisa terjadi 4,4 miliar tahun lalu selama tumbukan yang melelehkan bagian kerak jika ada air di atau di kerak Mars."

Baca juga: Elon Musk Sebut Starship Meluncur ke Mars pada 2024 

Kemunculan awal seperti ini menunjukkan bahwa ketika Mars terbentuk, ada air di sekitarnya dan itu berperan dalam penelitian publik tentang pembentukan planet. Dengan air muncullah kehidupan, salah satu alasan mengapa para ilmuwan sangat ingin memantaunya di sekitar tata surya.

Sebagai perbandingan, diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan paling awal di Bumi berasal dari setidaknya 3,5 miliar tahun lalu.

Pembelajaran Lebih Lanjut

Saat para ahli coba mencari tahu kapan air hadir dan bentuk apa yang bisa diambilnya, studi mengenai Mars terus berlanjut. Sebuah studi baru-baru ini mengemukakan gagasan bahwa air cair dan es permukaan bisa ada secara bersamaan di Planet Merah.

Baca juga: Fosil Bukit Pasir Berusia 1 Miliar Tahun Ditemukan di Mars 

Hasil tim juga menunjukkan bahwa susunan kimiawi atmosfer Mars saat ini, termasuk tingkat hidrogen yang tinggi, bisa membuat planet cukup hangat untuk mencairkan air dan kehidupan, meskipun selama periode ini, matahari akan lebih muda dan lebih lemah.

Mikouchi mengatakan analisis mereka menunjukkan bahwa dampak seperti itu akan melepaskan banyak hidrogen. Menurut dia, fenomena tersebut akan berkontribusi pada pemanasan planet ketika Mars sudah memiliki atmosfer penyekat karbondioksida yang tebal.

Baca juga: Bangunan 3D Akan Didirikan di Bulan untuk Bantu Misi Eksplorasi 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini