Peneliti Buat Robot Tangan Biomedis untuk Ukur Rangsangan Pasien

Felix Refialdo Handono, Jurnalis · Selasa 17 November 2020 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 17 16 2311099 peneliti-buat-robot-tangan-biomedis-untuk-ukur-rangsangan-pasien-U9FTfrsWFG.jpg Robot tangan biomedis. (Foto: Cornell University/Science Times)

SISTEM distributed fiber optic sensor (DFOS) berbasis silika biasanya digunakan untuk infrastruktur seperti jembatan, jalan raya, dan bangunan. Ini berfungsi menahan tekanan, kelembapan, dan bencana alam seperti gempa. Namun dalam studi terbaru, para peneliti menerapkan teknologi yang sama untuk robotika biomedis.

Tim peneliti dari Cornell University di New York, Amerika Serikat, mengembangkan perangkat sensor tangan baru yang berisi robot kecil. Robot tangan ini dapat direntangkan menggunakan cahaya untuk melacak gerakan tangan yang rumit.

Baca juga: Robot Serigala Ini Bertugas Melindungi Penduduk dari Beruang Liar 

Pada 2016, Lab Robotika Organik Robert Shepherd mengembangkan robot lunak yang memiliki sensitivitas sentuhan menggunakan pemandu gelombang optik yang dapat diregangkan.

"Robot medis biasanya menggunakan penglihatan untuk melakukan pengukuran. Kami tahu bahwa benda lunak dapat berubah bentuk dengan cara yang sangat rumit dan kombinasional, dan ada banyak deformasi yang terjadi pada waktu yang sama," ungkap peneliti Shepherd, seperti dikutip dari Science Times, Selasa (17/11/2020).

Sementara peneliti lainnya, Hedan Bai, menjelaskan bahwa jenis sensor yang dapat direnggangkan sebelumnya tidak dapat membedakan gerakan jari dibandingkan dengan tekanan pada telapak tangan. Namun untuk diterapkan dalam biomedis diperlukan pengembangan dengan algoritma mesin.

Baca juga: Wow, Robot Ini Bisa Tampilkan Ekspresi Wajah seperti Manusia 

Ia mengatakan bahwa teknologinya dapat digunakan dalam biomedis untuk mengukur rangsangan yang dirasakan pasien di organ utama. Selain aplikasi dalam biomedis, tim sedang mempelajari bagaimana sensor SLIMS dapat meningkatkan virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).

Meskipun AR dan VR didasarkan pada pengalaman gerakan, sentuhan hampir tidak ada sama sekali. "Nantinya simulasi AR tidak hanya menginstruksikan pemakainya cara mengganti ban, tetapi juga dapat mengukur tekanan dan gerakan yang diperlukan," tambah Shepherd.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini