LAPAN Tak Menindaklanjuti Temuan Meteorit di Sumut, Ini Alasannya

Fikri Kurniawan, Jurnalis · Jum'at 20 November 2020 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 16 2313136 lapan-tak-menindaklanjuti-temuan-meteorit-di-sumut-ini-alasannya-kxD4Cr8rGl.jpg (Foto: The SUN)

Beberapa waktu belakangan ini publik dihebohkan dengan meteorit yang jatuh menimpa rumah Josua Hutagalung, seorang pembuat peti mati asal Kolang, Sumatera Utara. Ramai diberitakan bahwa meteorit tersebut dijual dengan harga yang fantastis.

Bongkahan batu meteorit yang jatuh di Sumatera Utara tengah menjadi perbincangan. Sebab, penemunya menjual batu tersebut kepada kolektor asal Amerika Serikat seharga Rp200 juta.

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) akhirnya memberikan penjelasan terkait status kepemilikan meteorit tersebut. Sebab, banyak masyarakat yang keheranan atas pasifnya sikap otoritas nasional.

LAPAN menjelaskan, secara umum meteorit bisa dimiliki oleh setiap orang yang menemukannya, kecuali ada nilai ilmiah atau terkait keamanan dan keselamatan yang perlu ditindaklanjuti oleh LAPAN.

"Meteorit yang jatuh di daerah Tapanuli, Provinsi Sumatera Utara sama seperti umumnya meteorit," tutur LAPAN melalui laman resminya, Jumat (20/11/2020).

Meteorit bukan benda berbahaya. Dari segi ukuran, meteorit yang jatuh di daerah Tapanuli itu juga bukan sesuatu hal yang istimewa. Oleh karena itu, LAPAN tidak menindaklanjuti temuan tersebut.

 Beberapa waktu belakangan ini publik dihebohkan dengan meteorit yang jatuh menimpa rumah Josua Hutagalung.

Baca juga: 10 Meteorit Termahal di Dunia, Terendah Bernilai Rp4,6 miliar

LAPAN menjelaskan, berdasarkan peraturan yang berlaku, benda jatuh antariksa telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan pada Pasal 58 dan 59.

Pada pasal 58, yang termasuk benda jatuh antariksa ada 2 jenis, yaitu benda alamiah (meteorit) dan benda buatan manusia (sampah antariksa).

Benda jatuh antariksa adalah benda dari luar angkasa yang memasuki atmosfer Bumi hingga ketinggian kurang dari 120 km. Ada yang terbakar habis di atmosfer akibat gesekannya, dan ada juga yang sampai ke permukaan Bumi.

Awalnya, benda jatuh antariksa hanya benda-benda alami seperti meteorit. Namun, sejak dilakukannya peluncuran roket, benda jatuh antariksa dapat juga berupa benda buatan. Benda buatan yang jatuh ke Bumi adalah bagian dari sampah antariksa karena tidak memiliki fungsi lagi.

Sedangkan meteorit adalah batuan antariksa yang berasal dari batuan di tata surya yang terdiri dari pecahan asteroid, komet, atau batuan tata surya lainnya. Meteorit biasa jatuh di suatu tempat di Bumi.

Meteorit umumnya tidak berbahaya, kecuali dampak tumbukannya ketika jatuh ke Bumi tetapi sangat kecil kemungkinan mengenai manusia. Sedangkan sampah antariksa memiliki potensi bahaya dari kandungannya, seperti sisa bahan bakar yang beracun atau muatan nuklir.

Meteorit tidak dipantau oleh LAPAN, karena lintasannya tidak dapat diprakirakan. Berbeda dengan meteorit, sampah antariksa dipantau oleh LAPAN karena lintasannya dapat diprakirakan.

Sesuai dengan pasal 59 UU No 21 tentang Keantariksaan, LAPAN wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa. Hal tersebut sudah dilakukan untuk kasus di Tapanuli, dengan menyatakan benar itu benda jatuh antariksa tersebut masuk dalam kategori benda alamiah atau meteorit.

"LAPAN tidak menindaklanjuti lebih dalam karena benda tersebut tidak berbahaya dan tidak ada kepentingan ilmiah. Meteorit tersebut dapat dimiliki oleh penemunya," kata LAPAN menegaskan.

LAPAN menegaskan, dari segi ukuran, meteorit yang jatuh di daerah Tapanuli itu bukan sesuatu hal yang istimewa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini