Pentingnya Literasi Digital untuk Cegah Penyebaran Hoaks

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Jum'at 20 November 2020 16:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 16 2313193 pentingnya-literasi-digital-untuk-cegah-penyebaran-hoaks-frNEmWv5q1.jpg Ilustrasi (Foto: GSMA)

Literasi digital penting agar penyebaran informasi hoaks dapat semakin ditekan. Terlebih, penggunaan internet di berbagai perangkat kini semakin pesat ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Survei menunjukkan bahwa literasi digital di Indonesia belum mencapai level "baik". Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Katadata merilis hasil penelitian bertajuk Status Literasi Digital Indonesia 2020.

Pengukuran indeks literasi digital dan sejumlah hal terkait, dilakukan melalui survei yang dilakukan pada 18 hingga 31 Agustus 2020.

Pengambilan sampel survei menggunakan multi-stage random sampling dengan total jumlah responden 1670 orang.

Hasil survei tersebut mendapati bahwa literasi digital di Indonesia belum sampai level “baik”. Jika skor indeks tertinggi adalah 5, indeks literasi digital Indonesia baru berada sedikit di atas angka 3.

Penelitian ini mendapatkan kesimpulan tersebut dengan mengukur indeks literasi digital melalui 7 pilar dan 4 sub-indeks yang disusun dengan mengacu kepada “A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills” (UNESCO 2018).

 Literasi digital penting agar penyebaran informasi hoaks dapat semakin ditekan.

Baca juga: LAPAN Tak Menindaklanjuti Temuan Meteorit di Sumut, Ini Alasannya

"Skornya kita buatkan range rentang dari satu sampai lima, berarti di sini angka 3,47 baru antara sedang sampai baik. Kita belum sampai baik belum sampai 4," ujar Mulya Amri Research Director katadata.co.id saat pemaparan hasil survei, Jumat (20/11/2020).

"Ini yang jelas masih menjadi PR karena semakin meningkatnya internet, semakin menjadi sangat penting literasi digital ini," sambungnya.

Indeks literasi digital berkorelasi dengan usia lebih muda, jenis kelamin laki-laki, pendidikan tinggi, kemampuan kenali hoaks, penggunaan internet tidak intensif, & tidak tinggal di Jawa.

Literasi digital justru berbanding terbalik dengan kebiasaan positif mencerna berita online, dan kecenderungan tidak menyebarkan hoaks.

Survei juga menemukan mereka yang tinggal di perkotaan dan intensif penggunaan internetnya cenderung lebih terpapar pada kebiasaan positif maupun negatif.

Survei juga menemukan bagaimana pola masyarakat berbagi informasi. Keluarga dan tetangga berdasarkan penelitian ini menjadi sumber sekaligus target utama berbagi informasi. Sementara untuk medianya lewat media sosial Whatapps dan Facebook. Umumnya, informasi dari tokoh agama paling dipercaya, disusul keluarga, lalu aparatur seperti Ketua RT/RW.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini