Ilmuwan Prediksi Superkontinen Bakal Muncul Kembali di Masa Depan

Anjasman Situmorang, Jurnalis · Senin 21 Desember 2020 14:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 21 16 2331474 ilmuwan-prediksi-superkontinen-bakal-muncul-kembali-di-masa-depan-7DENY1HjKw.jpg Ilmuwan prediksi superkontinen muncul kemali di masa depan. (Foto: Sciencealert.com)

DARATAN rakasasa yang terdiri dari banyak benua bisa muncul kembali jauh di masa depan. Para ilmuwan menyebut mereka terbentuk sekitar 200 juta tahun dari sekarang dan akan mempengaruhi iklim di Bumi.

Para ilmuwan memodelkan tampilan masa depan “deep future” dari Bumi dan perubahan superkontinen pada 8 Desember lalu di pertemuan tahunan American Geophysical Union (AGU). Setidaknya, mereka memiliki dua skenario superbenua di masa depan.

(Baca juga: 200 Juta Tahun lagi, Benua-Benua Akan Menyatu)

Dalam skenario pertama mereka menyebut bahwa 200 juta tahun di masa depan, hampir semua benua mendorong ke arah Belahan Bumi Utara dan Antartika tinggal sendiri di Belahan Bumi Selatan. Kemudian skenario kedua, sebuah benua super terbentuk di ekuator dan meluas ke Belahan Bumi Utara dan Selatan sekitar 250 juta yang akan datang.

Selain itu, para ilmuwan juga menghitung dampak iklim global berdasarkan topografi superkontinen. Mereka menemukan bahwa ketika benua saling menyatu di utara, suhu global akan lebih dingin secara signifikan.

Dilansir dari Science Alert, Senin (21/12/2020), tim lain sebelumnya telah membuat model superkontinen di masa depan. Mereka mengatakan bahwa superbenua yang disebut Aurica akan bergabung dengan benua di sekitar ekuator dalam 250 juta tahun. Sedangkan, Amasia akan berkumpul di sekitar kutub utara.

(Baca juga: Mengenal Istilah NFC pada Smartphone Android)

Studi baru ini mengambil daratan Aurica dan Amasia serta topografi yang berbeda dan menyambungkannya ke model sirkulasi ROCKE-3D. Penulis utama studi, Michael Way mengatakan kalkulasi mereka menunjukkan parameter lain tentang perubahan Bumi. Sekitar 250 juta tahun dari sekarang, Bumi akan berputar sedikit lebih lambat.

“Laju rotasi Bumi melambat seiring waktu. Sekitar 250 juta tahun ke dapan, panjang hari bertambah sekitar sekitar 30 menit. Jadi kami memasukkannya ke dalam model untuk melihat pengaruhnya,” kata Way.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini