Awas! Setelah Disuntik Vaksin Covid-19, Jangan Minum Miras

Susi Susanti, Jurnalis · Rabu 06 Januari 2021 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 06 16 2339701 awas-setelah-disuntik-vaksin-covid-19-jangan-minum-miras-QAbltDvMhK.jpg Foto: Okezone

MOSKOW – Orang yang sudah disuntik vaksin Covid-19 diharapkan tidak mengonsumsi minuman keras (miras).

Hal ini diungkapkan ilmuwan terkemuka Rusia. Kepala Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow, Rusia, Alexander Gintsburg.

Dia menjelaskan minum alkohol setelah mendapatkan vaksin virus Corona baru dapat secara signifikan menumpulkan respons kekebalan dan berpotensi membuat vaksin tidak efektif.

“Kami sangat menyarankan untuk menahan diri dari alkohol selama tiga hari setelah setiap injeksi (mendapatkan vaksin),” terangnya kepada New Scientist.

Peringatan ini tidak hanya berlaku untuk vaksin Sputnik V, tetapi semua vaksin Covid-19 lainnya. “Ini cukup jelas,” katanya.

Dalam uji coba, sekitar 10% orang tidak menjadi kebal setelah menerima vaksin Sputnik V dan angkanya serupa untuk vaksin lain. Alasannya tidak diketahui, apakah alkohol bisa menjadi faktor belum diselidiki.

Sebuah studi tahun 2012 oleh para peneliti di Swedia menemukan, konsumsi alkohol rendah hingga sedang mampu menekan respons peradangan terhadap vaksin melawan pneumonia bakteri. Tetapi tidak berdampak pada respons kekebalan. Para peneliti mendefinisikan tingkat konsumsi alkohol ini sebagai asupan rata-rata kurang dari 30 gram sehari, hampir sama dengan tiga vodka.

(Baca juga: Samsung Akhiri Produksi Galaxy A11 dan A21s)

Gintsburg, mengatakan, minum 300 gram vodka -sekitar 12 takaran Inggris, yang mengandung total sekitar 120 gram alkohol- menekan produksi antibodi.

Gintsburg menilai ini terlalu ketat. “Tentu saja, kami tidak berbicara tentang larangan lengkap alkohol selama vaksinasi. Ini baru pembatasan konsumsi yang wajar sampai tubuh sudah membentuk respons imun sendiri terhadap infeksi virus Corona," ujarnya.

“Penting untuk dipahami bahwa konsumsi alkohol yang berlebihan dapat secara signifikan mengurangi kekebalan dan oleh karena itu mengurangi efektivitas vaksinasi atau bahkan membuatnya tidak berarti. Selain itu, ini berlaku tidak hanya untuk Sputnik V, tetapi juga untuk vaksin lainnya,” paparnya.

Menurut literatur ilmiah tentang alkohol dan sistem kekebalan tubuh, alkohol berlebih merupakan imunosupresan sehingga orang yang banyak minum lebih mudah terkena infeksi.

“Peminum berat memiliki banyak masalah dan fungsi kekebalan yang buruk adalah salah satunya,” kata ahli imunologi, Eleanor Riley, dari Universitas Edinburgh, Inggris.

Pekan ini, Anna Popova, Kepala Layanan Federal Rusia untuk Pengawasan tentang Perlindungan Hak Konsumen dan Kesejahteraan Manusia (Rospotrebnadzor), memicu kontroversi di Rusia ketika dia menyarankan orang Rusia untuk berhenti minum alkohol dua pekan sebelum vaksinasi pertama mereka dan untuk selanjutnya. Tepatnya tiga pekan setelah yang kedua. Ada jeda tiga minggu antara suntikan, jadi total delapan pekan tanpa minuman keras atau miras.

Dalam laporan yang sama, Kirill Dmitriev, CEO dari Dana Investasi Langsung Rusia, yang mendanai program Sputnik V, mengatakan, larangan miras berlaku untuk semua vaksin. "Tidak ada yang khusus tentang vaksin Sputnik yang membuatnya lebih rentan terhadap konsumsi alkohol," katanya mengingatkan.

Larangan mengonsumsi miras ikut direspons Paul Klenerman dari Universitas Oxford. “Tidak diragukan lagi bahwa alkohol berlebih yang kronis memiliki dampak yang signifikan pada banyak aspek kekebalan,” katanya. “Yang tidak jelas adalah apakah jumlah kecil saja akan berdampak signifikan. Jadi itu masuk akal dan Anda bisa sangat berhati-hati dan mengatakan menghindarinya. Negara yang berbeda mungkin akan memberikan panduan yang berbeda," tandasnya.

New Scientist melakukan kontak dengan sukarelawan di uji coba vaksin Inggris yang sedang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford. Mereka mengatakan, tidak ada instruksi untuk pantang alkohol selama vaksinasi.

Seorang sukarelawan pada uji klinis vaksin Imperial College London yang berbasis di Inggris, juga mengatakan, tidak ada persyaratan untuk menghindari alkohol. Namun, lembar informasi yang diberikan kepada peserta uji coba mengatakan orang dengan "kecurigaan atau ketergantungan alkohol atau narkoba saat ini" tidak dapat mengambil bagian dalam penelitian. Tidak dijelaskan apa alasannya.

Sementara itu, Pfizer, mengatakan, tidak ada peringatan tentang konsumsi alkohol yang diberikan kepada penerima vaksin yang telah dikembangkannya dengan BioNTech. AstraZeneca, yang telah menandatangani kesepakatan untuk berkolaborasi dengan proyek Sputnik V, tidak menanggapi permintaan informasi tentang alkohol dan vaksinasi. (sst)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini