Facebook Jadi Sarana Paling Digemari Para Penebar Hoaks Vaksin Covid-19 di Indonesia

Fikri Kurniawan, Jurnalis · Rabu 24 Februari 2021 11:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 16 2367402 facebook-jadi-sarana-paling-digemari-para-penebar-hoaks-vaksin-covid-19-di-indonesia-6jpI7LXpSj.jpg Data sebaran hoaks vaksin covid-19 (foto: Kominfo)

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah mengidentifikasi 111 isu hoaks yang berkaitan dengan Vaksin Covid-19. Isu hoaks itu tersebar di 578 platform digital. Facebook menjadi sarana paling diminati para penebar hoaks di Indonesia untuk menyebarkan berita bohong.

"Dari 111 isu hoaks itu, disebarkan melalui Facebook sebanyak 471, Instagram 9, Twitter 45, YouTube 38 dan TikTok 15 sebaran. Semuanya sudah di-takedown oleh Tim AIS Kominfo," jelas Koordinator Pengendalian Internet Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Anthonius Malau, dalam siara pers Kominfo.

Menurut Anthonius, ada kecenderungan hoaks terutama terkait vaksin Covid-19 terus meningkat. Jika dibiarkan, maka akan berdampak pada capaian kesuksesan vaksinasi oleh pemerintah.

Baca Juga:  Facebook Batasi Iklan Politik di Indonesia

Ia menegaskan, vaksin merupakan program pemerintah yang tidak boleh gagal. Program ini harus berhasil seperti yang dikatakan para ahli untuk mencapai target herd immunity masyarakat, agar Covid-19 bisa dikendalikan.

“Kami mengajak multistakeholder yang terlibat untuk menanggulangi hoaks,” imbuhnya.

Baca Juga: Catat! Ini Cara Menangkal dan Verifikasi Hoaks yang Beredar di Media Sosial 

Kementerian Kominfo, menurut Anthonius, meminta pandangan dari berbagai pemangku kepentingan, dengan tujuan mengatasi bersama persoalan hoaks vaksin yang sampai saat ini masih menimbulkan rasa ketakutan di masyarakat.

Misalnya, kementerian terkait seperti Kementerian Kesehatan memiliki kewenangan untuk memberikan klarifikasi hoaks yang berkaitan dengan vaksin.

 

“Kementerian Kesehatan tentunya yang memahami secara teknis tentang vaksin ini, kalau kita dari Kominfo kan membuat stempel suatu informasi terkait dengan vaksin itu hoaks atau tidak,” tuturnya.

Kominfo mengklaim tidak hanya melabelkan sebuah informasi terkategori hoaks, disinformasi, atau misinfomasi, tetapi ada langkah lanjutan, yakni mendiseminasi informasi tersebut kepada kementerian/lembaga, termasuk pemerintah daerah.

“Supaya seluruh lapisan masyarakat dapat memahami dan mengetahui bahwa informasi terkait dengan vaksin (berbahaya) itu hoaks,” tandasnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini