Cara Mudah Cari Tempat Magang Kerja, Cukup Buka Platform Ini

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 15 April 2021 12:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 16 2395088 cara-mudah-cari-tempat-magang-kerja-cukup-buka-platform-ini-JINE4jrcjO.jpg Platform Bantu Kerja dan Magang (foto: IST)

JAKARTAVirtual hub bernama Bantu Kerja berbasis web resmi dihadirkan untuk membantu para pencari pekerjaan dan tempat magang kerja. Virtual hub macam itulah yang dihadirkan Matata Edu Inovasi untuk menjawab keresahan dari penggagasnya, Enrico Pitono dan Tari Sandjojo.

“Selama enam belas tahun bekerja di bidang perbankan di Indonesia, ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya terkait dengan kualitas pekerja magang yang datang dan pergi di tempat saya bekerja. Mereka rata-rata tidak diperlengkapi dengan kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan mereka sehari-hari,” bilang Enrico, founder Matatacorp, holding company PT Matata Edu Inovasi.

Baca Juga: Unik, Pesta Pernikahan Virtual dengan Teknologi Green Screen

Yang dia maksud bukanlah kemampuan teknis atau teoritis. Tetapi justru merujuk pada soft skills yang lebih mendasar lagi: berinteraksi, berkomunikasi, sekaligus kemampuan menempatkan diri di tengah dunia kerja yang notabene berbeda dengan dunia sekolah atau kuliah. Hal-hal seperti itu, yang tak pernah menjadi masalah alias sudah purna di negara seperti Inggris, atau sebagian besar negara Eropa dan Asia lain.

Tari Sandjojo, psikolog dan pendidik yang saat ini memimpin tim Matata Edu Inovasi. Sekian puluh tahun berkecimpung di dunia pendidikan dengan spesialisasi sebagai learning designer, Tari menyebut bahwa gap itu ada sebagai akibat dari ketidakluwesan kurikulum dalam merespon kebutuhan dari industri penyerap tenaga kerja.

Baca Juga: Aplikasi Lacak COVID-19 PeduliLindungi Bisa Diunduh Melalui Play Store 

“Yang saya alami dan pahami sebagai pendidik selama ini adalah siswa-siswa itu akan lebih senang dan terpacu untuk belajar jika diterjunkan langsung ke dalam situasi sebenarnya. Setelah itu barulah para pendidik bisa berperan membuat kurikulum demi mengisi kekurangan-kekurangan sesuai dengan permasalahan yang sedang dialami anak-anak didiknya itu,” terang Tari.

Solusi Logistik

Dari pemikiran itulah, platform yang kemudian dinamakan Bantu Kerja dirancang, tepatnya mulai 2016. “Idenya adalah menjembatani kebutuhan industri dengan ekspektasi dari pemagang. Karena di situlah banyak terjadi gap,” tambah Tari.

Jembatan yang dimaksud Tari di sini tak hanya mempertemukan dan membiarkan kedua belah pihak itu berinteraksi sendiri. Lebih dari itu platform Bantu Kerja juga berlaku sebagai fasilitator komunikasi antar kedua pihak mengenai berbagai proyek magang yang ditawarkan di dalamnya.

Di platform ini, tiap mitra industri yang membutuhkan tenaga magang, bisa memposting proyek-proyek magang yang mereka punya untuk kemudian di-bid oleh calon pemagang. Sebagai empunya proyek, pemberi magang bisa memberi pembekalan berupa kisi-kisi serta tips dan trik tentang proyek tersebut.

Sejak proses bidding dan selama proyek berjalan, pemberi proyek bisa mulai menilai dan memilah pemagang mana saja yang sesuai dengan kriteria mereka. Jika kemudian hasil akhirnya sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, besar kemungkinan si pemagang akan terpilih untuk dipakai lagi sekiranya ada proyek baru lainnya.

Dilakukan sepenuhnya secara online, hal itu merupakan solusi bagi kegelisahan industri dalam soal magang ini. “Salah satu kebingungan yang selama ini saya lihat beredar di sisi industri mengenai permasalahan pegawai magang adalah perihal kapasitas ruang dan logistik lain yang bisa mereka sediakan. Di satu sisi mereka butuh pemagang, tapi di sisi lain mereka tak sanggup jika harus mengakomodir sekian banyak orang di satu waktu tertentu secara fisik,” cerita Rico.

Bagi para calon pemagang, selain kesempatan magang di berbagai jenis dan varian proyek, platform Bantu Kerja menawarkan pembekalan berbentuk modul-modul yang isinya bersifat komplementer terhadap apa yang sudah didapatkan di bangku sekolah.

“Kami membuat modul-modul tersebut berdasarkan tabulasi problem yang kerap ditemui dalam interaksi antara pemberi dan penerima magang. Lalu kami sesuaikan dengan kurikulum bersama guru-guru dari beberapa sekolah,” jelas Tari.

Setelah memenangkan bid, dalam menjalankan tugas-tugas magangnya, seperti sudah dijelaskan di atas, para pemagang akan melalu serangkaian tahap. Di tiap tahapnya mereka akan mendapatkan badge. Hanya mereka yang mengantungi badge lengkap yang berhak dinilai hasil akhirnya oleh pemberi magang. Seperti dalam game saja: kalau belum lengkap, belum bisa mencapai tahap final.

Dirancang untuk calon pemagang dalam rentang usia 14 hingga 24 tahun, unsur gamifikasi macam ini sengaja disisipkan untuk agar tetap relevan dengan kebiasaan dan alur logika berpikir mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini