Kebijakan Baru WhatsApp, Bagai "Buah Simalakama" si Pengguna

Fikri Kurniawan, Jurnalis · Selasa 18 Mei 2021 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 18 16 2411714 kebijakan-baru-whatsapp-berlaku-15-mei-bagai-buah-simalakama-si-pengguna-etaLLpKuGR.jpg WhatsApp ilustrasi (foto: Cnet)

JAKARTAAplikasi chating Whatsapp mulai memberlakukan penerapan kebijakan privasi barunya, yang semula diberlakukan pada 8 Februari lalu. Berbagai pro kontra muncul mengenai kebijakan yang dilakukan aplikasi di bawah naungan Facebook ini.

Meski sudah dinyatakan tidak akan ada pemaksaan penggunanya untuk tidak menyetujui kebijakan tersebut, tetapi tetap saja ada pembatasan pemakaian bagi pengguna yang tidak setuju dengan pembaruan itu.

WhatsApp juga tetap mengumpulkan data pengguna, dan dibagi ke pihak ketiga atau pengiklan. Jadi, pengguna yang tak menyetujui tetap bisa menggunakan aplikasi, tapi banyak fungsinya yang dibatasi.

Baca JugaBerlaku 15 Mei, Pengguna Wajib Pahami Untung Rugi Kebijakan Baru WhatsApp

Baca JugaTak Setuju Aturan Privasi Baru WhatsApp, Begini Nasib Akun Anda

Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto, menuturkan, pengguna tak bisa melakukan perpesanan dengan melihat daftar pesan seperti biasanya, tetapi masih bisa jawab panggilan telepon dan video yang masuk.

Namun, setelah beberapa pekan, pengguna tak akan dapat menerima panggilan masuk. Lalu WhatsApp akan berhenti mengirim pesan dan panggilan ke ponsel pengguna.

WhatsApp akan meminta pengguna untuk menyetujui syarat dan ketentuan dengan notifikasi yang akan ditampilkan terus menerus sampai pengguna memilih “setuju”. Jika pengguna memilih klik x untuk menutupnya, notifikasi ini bakal muncul lagi.

"Intinya, Whatsapp berbagi informasi dengan perusahaan Facebook, termasuk berbagi dengan produk perusahaan Facebook lainnya," tutur Damar, dikutip dari akun Twitter pribadinya.

Sementara itu, dilansir dari laman resmi SAFEnet, menjelaskan bahwa WhatsApp akan meminta pengguna untuk menyetujui syarat dan ketentuan dengan notifikasi yang akan ditampilkan terus menerus sampai pengguna memilih “setuju”.

"Jika pengguna memilih klik x untuk menutupnya, notifikasi ini bakal muncul lagi," jelas SAFEnet.

Menurut lembaga tersebut, Whatsapp berpikir pengguna yang tadinya mengabaikan atau menolak akhirnya akan angkat tangan dan menyerah.

Pengguna yang ngeyel mau tidak mau akan memilih untuk mengklik “setuju” atas kebijakan privasi baru Whatsapp. Sebenarnya ini sama saja dengan “memaksa”, hanya saja tidak secara frontal.

Di sisi lain, bagi pengguna yang menyetujuinya, ada beberapa risiko yang dihadapi.

Pada saat pembelian WhatsApp pada tahun 2014, aplikasi ini tidak mengumpulkan nomor telepon, metadata, atau informasi kontak lainnya. CEO Facebook Mark Zuckerberg berjanji akan tetap seperti itu.

“Kami sama sekali tidak akan mengubah rencana seputar WhatsApp dan caranya menggunakan data pengguna. WhatsApp akan beroperasi sepenuhnya secara otonom,” ucap Zuckerberg, saat itu.

Namun sejak tahun 2016, WhatsApp menerapkan pembaruan pada syarat dan ketentuannya yang memungkinkan data seperti nomor telepon pengguna dibagikan kepada Facebook.

“Sebagai bagian dari Perusahaan Facebook, WhatsApp menerima informasi dari, dan berbagi informasi dengan Perusahaan Facebook … termasuk untuk menyediakan integrasi yang memungkinkan Anda menghubungkan pengalaman Whatsapp Anda dengan Produk Perusahaan Facebook lainnya," dikutip dari WhatsApp Terms of service.

Damar memaparkan, ada lima hal yang terjadi saat WhatsApp menguasai data pengguna. Pertama, memahami minat dan gaya hidup untuk mengejar pengguna dengan iklan.

Dengan data yang dikumpulkan, WhatsApp membangun profil pengguna adalah tentang mempermainkan sentimen dan keputusan pengguna.

Kedua, membentuk pandangan politik pengguna. Jika data pengguna Facebook diambil untuk membangun profil psikologis dan mengeksploitasi bias politik mereka dengan iklan Facebook, hal yang sama bisa terjadi lagi.

Ketiga, mengubah keadaan emosi pengguna. Suasana hati dan emosi pengguna bisa dipermainkan dengan pancingan informasi. "Eksperimen ini pernah dilakukan Facebook di Januari 2012 pada 689.003 pengguna selama satu minggu," tutur Damar.

Keempat, menentukan keberadaan dan tempat yang sering penggina kunjungi untuk mencapai akurasi periklanan yang lebih tinggi. Pengguna akan ditarget dengan penempatan iklan berdasarkan geolokasi untuk membantu mitranya menyergap calon pelanggan.

Kelima, kehilangan data pengguna karena pelanggaran keamanan lain. Kebocoran data pengguna skala besar sering terjadi di produk perusahaan Facebook, jangan membahayakan kehidupan digital dan orang-orang yang dikasihi.

"Saran saya, jangan pakai WhatsApp jika privasi benar-benar prioritas Anda dan pindah ke aplikasi yang menghargai privasi," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini