Nanti Malam Jangan Lupa Lihat Gerhana Bulan Total, Tidak Perlu Pakai Alat Bantu Optik

Agnes Teresia, Jurnalis · Rabu 26 Mei 2021 07:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 16 2415627 nanti-malam-jangan-lupa-lihat-gerhana-bulan-total-tidak-perlu-pakai-alat-bantu-optik-LoaF8taAfj.jpg Gerhana bulan total. (Foto: Wirestock/Freepik)

NANTI malam, Rabu 26 Mei 2021, di hampir seluruh wilayah Indonesia akan bisa menyaksikan fenomena alam gerhana bulan total (GBT) atau Super-Blood Moon. Fenomena alam ini bakal berlangsung pukul 16.00 WIB.

Ini merupakan salah satu peristiwa terhalanginya sinar matahari oleh Planet Bumi yang menyebabkan tidak semua cahaya sampai ke bulan. Gerhana bulan total terjadi ketika posisi matahari-Bumi-bulan sejajar.

Baca juga: Berbagai Negara yang Bisa Menyaksikan Gerhana Bulan Total, Salah Satunya Indonesia 

Gerhana bulan total atau fenomena alam Super-Blood Moon kali ini bertepatan dengan Hari Raya Waisak Tahun 2565.

Menurut artikel yang ditulis R Jamroni ST MM di laman resmi BMKG, puncak gerhana ini dapat disaksikan langsung tanpa alat bantu optik pada pukul 18.46 WIB di wilayah barat Indonesia, 19.46 Wita di wilayah tengah Indonesia, dan pukul 20.46 WIT di wilayah Timur Indonesia.

Gerhana bulan. (Foto: AFP)

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebut fenomena gerhana bulan total ini merupakan peristiwa yang sangat spesial karena hanya terjadi 195 tahun sekali.

Proses gerhana bulan total kali ini akan berlangsung selama 3 jam 7 menit yang akan diawali gerhana penumbra pada pukul 15.46.37 WIB dan kontak terakhir penumbra pukul 20.51.16 WIB yang mengakhiri seluruh proses gerhana. Durasi puncak gerhana akan berlangsung selama 14 menit dan 30 detik.

Baca juga: Gerhana Bulan Total Berlangsung 26 Mei, Ini Waktu Terbaik Melihatnya 

Fenomena Super-Blood Moon hanya terjadi ketika fase bulan penuh dan mengalami gerhana bulan total (GBT). Bulan akan tampak berwarna merah dan akan semakin merah bergantung dengan ketebalan partikel di atmosfer Bumi yang ditembus cahaya itu seperti polusi udara atau tutupan awan.

"Secara umum ada dua jenis gerhana: gerhana bulan dan gerhana matahari," jelas Juan Carlos Beamin, astrofisikawan dari Pusat Komunikasi Sains dari Universitas Otonomi Chile, dalam bukunya yang berjudul 'Illustrated Astronomy'.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini