Facebook Sensor Unggahan Terkait Palestina, Ini Bahaya yang Bisa Ditimbulkan

Danang Arradian, Jurnalis · Senin 31 Mei 2021 11:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 16 2417849 facebook-sensor-unggahan-terkait-palestina-ini-bahaya-yang-bisa-ditimbulkan-BqYCsh34N0.jpg Ilustrasi Facebook. (Foto: Freepik)

BEBERAPA pekan terakhir media sosial Facebook masih menjadi sorotan. Ini terkait protes yang dilakukan para aktivis hak asasi manusia (HAM) buntut aksi penyensoran Facebook terhadap unggahan dukungan untuk Palestina.

Memangnya berapa banyak unggahan yang dihapus? Dalam dua pekan pasca-insiden di Kompleks Masjid Al Aqsa di Yarusalem (6–19 Mei) jumlahnya hampir 500 unggahan di linimasa Facebook. Demikian diungkapkan 7amleh, organisasi atau LSM nonprofit pembela HAM di Palestina.

Baca juga: Aktivis Pro-Palestina Protes, Kampanyekan Beri Bintang 1 ke Aplikasi Facebook 

Ratusan unggahan tersebut dianggap tidak lolos moderasi konten algoritma rancangan Facebook. Kemudian 7amleh tidak sendiri, sekarang berbaris 30 LSM HAM yang menuntut Facebook lebih transparan dalam menyeleksi unggahan yang berhubungan dengan Palestina.

Anggota Kongres Amerika Serikat Rashida Tlaib menyurati Facebook. Ia menuntut keterbukaan terhadap penyensoran konten Palestina dalam beberapa pekan terakhir.

"Saya tidak habis pikir bagaimana Facebook bisa menyensor suara-suara damai dari Palestina," ujarnya.

Palestina. (Foto: Edna Leshowitz/Zuma Wire/Rex/Shutterstock)

Kelompok LSM HAM menyebut keputusan Facebook dan perusahaan-perusahaan teknologi Amerika terkait "penyensoran" terkait Palestina adalah masalah besar. Mereka adalah perusahaan swasta yang tidak seharusnya bertindak sebagai mediator tentang informasi apa yang boleh dan tidak boleh keluar dari zona perang.

Baca juga: 40 Jaksa Penuntut Umum Minta Instagram untuk Anak-anak Dihentikan 

Masalahnya, bagi sebagian warga Palestina, media sosial menjadi satu-satunya platform untuk berbagi informasi dan menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Bahkan jurnalis dan media pun sangat terbatas dan sulit untuk melakukan peliputan di wilayah Israel dan Palestina.

Direktur Eksekutif 7amleh Nadim Nashif menyebut bahwa penyensoran ini sudah pernah terjadi sebelum insiden Masjid Al Aqsa.

"Akan terus terjadi. Yang kami minta adalah transparansi atau keterbukaan Facebook dalam melakukan sensor/moderasi konten," katanya kepada laman The Guardian.

Transparansi yang dimaksud karena Facebook tidak memberikan alasan yang jelas saat memblok konten terkait Masjid Al Aqsa. Para pegiat LSM menilai penyensoran Facebook sengaja ditargetkan pada suara-suara dari Palestina atau yang berhubungan dengan Palestina.

Selain Facebook, Instagram juga sempat memblok akun Mona al Kurd, remaja Palestina yang rumahnya diduduki oleh pemukim (settler) Israel yang sedang viral. Banyak kasus-kasus lain di mana pemblokiran konten itu dilakukan bahkan di unggahan-unggahan artis, aktivitis, ataupun selebritas. Lalu tidak hanya Facebook dan Instagram, Twitter juga diduga melakukan penyensoran.

Baca juga: Facebook Uji Coba Fitur Komunitas 'Neighborhoods' di AS dan Kanada 

LSM yang menyuarakan transparansi Facebook ini bukan hanya 7amleh. LSM seperti Jewish Voice for Peace dan Fight for the Future and the National Lawyers Guild sudah menyuarakan kampanye "stop melakukan sensor kepada warga Palestina" di semua platform Facebook maupun Instagram.

Mereka juga menutut Facebook lebih transparan. Mereka bahkan langsung menyurati COO Facebook Sheryl Sandberg.

Lantas, apa bahayanya perusahaan raksasa seperti Facebook melakukan penyensoran terhadap informasi?

Baca juga: Facebook Tetap Larang Trump Posting di Media Sosial 

Jillian C York, aktivitis kebebasan perpendapat dari Electronic Frontier Foundation, sudah lama memonitor penyensoran Facebook terhadap Palestina.

"Makin jelas bahwa ada beberapa perusahaan yang memegang kekuatan besar dalam kebebasan berpendapat di situasi seperti ini," ujarnya.

Menurut dia, jika sebuah perusahaan swasta membatasi kebebasan berpendapat, maka masyarakat tidak bisa melihat realita sebenarnya yang sedang terjadi.

"Jadi, kita hanya disuguhi narasi dari satu sisi saja," ungkapnya.

Gara-gara protes itu, VP global affairs Facebook Nick Clegg sudah bertemu secara virtual dengan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh. Nick meminta maaf secara langsung dan mengakui kesalahan bahwa mereka "tidak sengaja" melabeli sejumlah posting-an sebagai pelanggaran.

Baca juga: Trump Luncurkan Situs Web Baru, Bisa Dibagikan ke Twitter dan Facebook 

Juru bicara Facebook membela diri ada glitches atau gangguan pada software artificial intelligence (AI) yang berpengaruh dalam membagikan konten di Facebook dan Instagram. Ini terutama terkait tagar Masjid Al Aqsa. Facebook mengklaim memiliki tim khusus yang berbicara Arab dan Hebrew untuk memonitor situasi di lapangan.

"Kami sudah memperbaiki hal ini. Seharusnya hal ini tidak pernah terjadi. Kami meminta maaf untuk semua yang tidak bisa membagikan informasi terhadap kejadian penting, atau merasa Facebook menghalangi suara mereka. Ini tidak pernah jadi tujuan kami," tulis juru bicara Facebook.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini