Viral Video Matahari Terbit dari Utara, Tanda Kiamat? Begini Penjelasan BMKG

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Jum'at 18 Juni 2021 21:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 16 2427493 viral-video-matahari-terbit-di-utara-tanda-kiamat-begini-penjelasan-bmkg-Ggt8UFQcqA.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

JAKARTA - Video amatir matahari terbit dari utara viral di jagad media sosial. Video yang direkam di Jeneponto, Sulawesi Selatan tersebut membuat heboh warga setempat hingga ramai di media sosial karena dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat.

Video amatir tersebut direkam salah seorang guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Binanamu Jeneponto pada Kamis (18/6/2021) pagi.

Mengenai hal ini, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan geofisika (BKMG), Daryono, menyatakan prihatin dengan viralnya isu ini.

"Saya kok agak prihatin dengan viralnya kasus gerak semu matahari, padahal itu di pelajaran geografi saat SMP sudah diajarkan?," tulisnya dalam unggahan Instagram @daryonobmkg.

Matahari terbit

(Ilustrasi)

Kemudian diunggahan yang berbeda ia menjelaskan bahwa gerak semu matahari merupakan fenomena alam biasa, kedudukan Matahari seperti bergeser ke utara dan selatan. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya.

Menurutnya, matahari sedang bergeser ke utara. Puncaknya di utara akan terjadi pada 21 Juni. Hal ini terjadi karena pergerakan Bumi mengelilingi Matahari atau revolusi Bumi, sehingga Matahari seolah terbit di utara.

Baca Juga : Viral Matahari Terbit dari Utara, Benarkah Tanda Kiamat?

Sementara itu, BMKG Makassar menuturkan bahwa sebenarnya dalam rekaman video viral itu, matahari terbit dari timur, namun kata dia dalam gerakan matahari ke barat, condong di sisi utara, lantaran tidak berada pada garis khatulistiwa.

"Tetap bergerak dari timur ke barat, akan tetapi condongnya bergerak di sebelah utara. Jadi tetap terbit dari timur, tetapi perjalanan ke barat dia lewat jalur utara, bisa dikatakan seperti itu," kata Prakirawan BMKG, Rizky.

Rizky menjelaskan, fenomena itu memang biasa terjadi mulai pada bulan Maret dan puncaknya terjadi pada Juni. Fenomena ini akan berakhir pada September di tiap tahunnya.

"Jadi nanti setelah September menuju Oktober, November, Desember, dia bergeraknya perlahan-lahan dari timur ke barat lewat arah selatan," pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini