Mengenal Fenomena Bediding yang Bikin Suhu Udara Lebih Dingin di Musim Kemarau

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Jum'at 16 Juli 2021 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 56 2441493 mengenal-fenomena-bediding-yang-bikin-suhu-udara-lebih-dingin-di-musim-kemarau-gXfppTuAMh.jpg Fenomena Bediding Bikin Suhu Lebih Dingin (Foto: Shutterstock)

JAKARTA- Fenomena aphelion belakangan menjadi perhatian lantaran disebut membawa suhu dingin di sebagian wilayah Indonesia. Padahal Indonesia saat ini memasuki musim kemarau.

Namun menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kejadian suhu dingin yang dirasakan beberapa daerah ini bukan karena fenomena aphelion.

"Kondisi ini biasa disebut dengan fenomena bediding," tulis BMKG di akun Instagramnya seperti dikutip, Jumat (16/7/2021).

Fenomena ini menurut BMKG memang terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli-September), dimana pada periode ini ditandai oleh pergerakan angin bertiup dominan dari arah Timur yang berasal dari Benua Australia. Sehingga, wilayah Jawa hingga NTT yang menuju periode puncak musim kemarau pun merasakannya.

Fenomena Beididing Bikin Suhu Udara Lebih Dingin

Baca Juga:

Selain Wally Funk, Remaja 18 Tahun Ini Bakal Terbang ke Luar Angkasa Bareng Jeff Bezos

Jelang Hari Emoji Sedunia, Facebook Messenger Rilis Soundmoji

BMKG memaparkan jika pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering.

Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau yang dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa lebih dingin.

Berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT terlihat cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir juga disertai oleh berkurangnya kandungan uap air di atmosfer.

Secara fisis, jelas BMKG, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan. Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini