WhatsApp hingga Telegram Jadi Target Scammer Sebar Link Berbahaya

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Sabtu 17 Juli 2021 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 57 2441927 whatsapp-hingga-telegram-jadi-target-scammer-sebar-link-berbahaya-AqztSoPWXs.jpg WhatsApp hingga Telegram Jadi Target Scammer (Foto: Unsplash/ Dimitri Karastelev)

JAKARTA- Pandemi Covid-19 tidak dipungkiri membuat cara menusia berkomunikasi berubah. Kini masyarakat lebih banyak mengandalkan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram untuk berkirim informasi.

Hal tersebut guna mengurangi kontak langsung dan penyebaran virus. Kendati demikian, perusahaan Keamanan Siber, Kaspersky melihat aplikasi semacam WhatsApp hingga Telegram menjadi target baru bagi para scammer untuk mengirim link yang berbahaya atau modus pishing.

WhatsApp hingga Telegram Jadi Target Pishing

BACA JUGA:

- Game Pokemon Unite Hadir di Nintendo Switch 21 Juli, Android dan iOS Kapan?

- Saingi Nintendo Switch, Valve Umumkan Konsol Game Steam Deck

"Sebagian karena popularitas aplikasi ini semakin luas di kalangan pengguna, serta kemampuan fungsionalitas bawaan pada aplikasi untuk meluncurkan serangan," kata Analis Konten Web Senior di Kaspersky, Tatyana Shcherbakova, dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Sabtu (17/7/2021).

Secara keseluruhan, Kaspersky menganalisis, klik anonim pada link phishing di seluruh aplikasi messaging seperti, WhatsApp, Viber, Telegram, dan Hangout, dari Desember 2020 hingga Mei 2021, ada sekira 91.242 kali.

Dari hasil tersebut, rupanya WhatsApp menjadi platform paling banyak mendeteksi jumlah tautan berbahaya sebanyak 84,9 persen. Kemudian diikuti Telegram 5.7 persen, Viber 4.9 persen, dan Hangouts 1 persen.

Jumlah pesan berbahaya paling banyak terdeteksi di Rusia (42%), Brasil (17%) dan India (7%). Selain itu, statistik Kaspersky untuk Indonesia menunjukkan sebanyak 738 deteksi untuk WhatsApp dan 39 deteksi untuk Telegram selama periode Desember 2020 hingga Mei 2021.

Dalam hal jumlah serangan phishing yang tercatat per pengguna di WhatsApp, Brasil memimpin dengan 177 deteksi dan disusul oleh India (158). Pada saat yang sama, Rusia menjadi peringkat tertinggi dalam jumlah deteksi berbahaya di Viber (305) dan Telegram (79) dibandingkan dengan negara lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini