Ancaman Siber yang Paling Sering Dihadapi, Salah Satunya Remote Code Execution

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 16 September 2021 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 54 2472211 ancaman-siber-yang-paling-sering-dihadapi-salah-satunya-remote-code-execution-pvkXFPxkK4.jpg Ancaman siber (Foto: Tech patro)

SELAMA enam bulan terakhir, organisasi di Indonesia mengalami 746% lebih banyak serangan siber dari rata-rata global. Ini terjadi di tengah maraknya perusahaan memberlakukan WFH.

Deon Oswari selaku Country Manager Indonesia, Check Point Software mengatakan, di antara ancaman siber yang paling sering dihadapi yakni Remote Code Execution, yang berdampak pada 62% organisasi dalam 6 bulan terakhir.

 ancaman siber

"Remote Code Execution adalah serangan siber yang terjadi ketika penyerang mengeksekusi perintah dari jarak jauh terhadap perangkat korban atau target, biasanya setelah host mengunduh malware berbahaya," ujar Deon, Kamis, (16/8/2021).

Menurut Deon, Check Point Threat Intelligence Report juga mengungkapkan, tiga industri yang paling terdampak di Indonesia adalah bidang pemerintah atau militer, manufaktur, dan perbankan, yang masing-masing menerima 686%, 403%, dan 313% lebih banyak serangan per minggunya jika dibandingkan dengan rata-rata global pada setiap sektor.

Di tengah pandemi, peralihan ke kerja dari rumah (remote working) telah mempercepat 'transformasi digital' di Indonesia. Oleh karena itu, para pelaku kejahatan siber telah mengadaptasi praktik kerja mereka dengan cara memanfaatkan peralihan ini untuk membidik jaringan distribusi perusahaan dan jaringan mitra-mitra organisasi, untuk mencapai kerusakan maksimal.

"Banyak organisasi di Indonesia rentan terhadap serangan siber karena mereka tidak memiliki perlindungan yang memadai, atau masih bergantung pada teknologi yang sudah ketinggalan. Oleh karena itu, organisasi di Indonesia sebaiknya meninjau kembali strategi keamanan siber dan kesterilan sistem keamanan mereka untuk menghindari menjadi korban dari kebocoran besar," jelas Deon.

Dalam 2 tahun terakhir, Indonesia telah mengalami beberapa kebocoran tingkat tinggi. Pada bulan Juni 2020, lebih dari 230.000 data pasien Covid-19 Indonesia telah bocor.

Data yang bocor meliputi nama pasien, alamat, nomor telepon, kewarganegaraan, tanggal diagnosis, hasil, dan masih banyak lagi.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini