Peneliti Gambarkan Bumi dalam Kondisi Berbahaya untuk Kehidupan Manusia

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Rabu 29 September 2021 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 56 2478547 peneliti-gambarkan-bumi-dalam-kondisi-berbahaya-untuk-kehidupan-manusia-MBZbEOhFIY.jpg Ilmuwan sebut bumi dalam kondisi berbahaya untuk kehidupan (foto: Sindonews)

JAKARTA - United Nations Assessment of Nationally Determined Contributions (NDCs) melaporkan penelitian ilmiah yang berbicara tentang dampak jangka panjang dari perubahan iklim, seperti naiknya tingkat gas rumah kaca, suhu dan permukaan laut.

Laporan tersebut menyebutkan perkembangan saat ini untuk menangkal peningkatan suhu udara tidak begitu menjanjikan, sehingga bisa saja temperatur naik 2,7 derajat celsius di tahun 2100.

Baca Juga:  Pemerintah Minta Negara Lain Cegah Kenaikan Suhu Global Tak Lebih dari 1,5 Derajat Celsius

Ini merupakan kondisi berbahaya yang bisa terjadi di 2100 di mana kebakaran, badai, kekeringan, banjir dan panas, pergeseran tanah dan perubahan ekosistem perairan, akan marak terjadi.

"Menurut permodelan kami, temperatur rata-rata global akan terus naik di atas tahun 2100," tulis laporan, dikutip dari Science Alert, Rabu (29/9/2021).

Baca Juga:  Mengenal Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

Dalam skenario ini, area yang cocok untuk bertani akan menurun dan wilayah di mana tanaman bisa tumbuh subur akan bergerak lebih dekat ke kutub Bumi.

Lebih lanjut, peneliti laporan itu menemukan tekanan panas dapat mencapai tingkat yang fatal bagi manusia di daerah tropis yang saat ini berpenduduk padat.

Daerah yang sudah mencapai tingkat panas seperti itu kemungkinan sudah tidak layak huni. Bahkan di bawah skenario mitigasi tinggi, mereka menemukan bahwa permukaan laut terus naik karena mengembang dan bercampurnya air di lautan yang memanas.

"Meskipun temuan kami didasarkan pada satu model iklim, mereka berada dalam kisaran proyeksi yang lain dan saling membantu mengungkap besarnya potensi pergolakan iklim pada skala waktu yang lebih lama." terang penelitian tersebut.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini