DNA Fosil Wanita Berusia 7.200 Tahun di Indonesia Ubah Sejarah Purba

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Selasa 12 Oktober 2021 14:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 12 56 2485093 dna-fosil-wanita-di-indonesia-ubah-sejarah-purba-r9gUh4eyNV.jpg Fosil (Foto: The guardian)

RUPANYA para arkeolog menemukan DNA purba pada fosil seorang wanita muda yang terkubur 7.200 tahun lalu di pulau Sulawesi, Indonesia.

Ini menjadi sebuah penemuan baru yang mengubah teori yang sebelumnya diketahui tentang migrasi manusia purba.

Fosil milik seorang remaja berjuluk Bessé ditemukan di goa Leang Panninge di pulau Sulawesi, Indonesia. Penggalian awal dilakukan pada tahun 2015.

 goa

Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature itu diyakini sebagai pertama kalinya DNA manusia purba ditemukan di Wallacea, rantai besar pulau dan atol di lautan antara daratan Asia dan Australia.

Temuan DNA kemudian diekstraksi dari bagian petrous tulang temporal Bessé, yang menampung telinga bagian dalam.

Prof Adam Brumm dari Universitas Griffith, yang ikut memimpin penelitian menjelaskan, DNA utuh adalah penemuan langka.

“Daerah tropis yang lembap sangat tak kenal ampun terhadap pelestarian DNA pada tulang dan gigi manusia purba,” kata Brumm, dikutip dari The Guardian, Selasa (12/10/2021).

“Hanya ada satu atau dua kerangka pra-neolitik yang telah menghasilkan DNA purba di seluruh daratan Asia Tenggara."

“Di tempat lain di dunia – di garis lintang utara Eropa, di Amerika – analisis DNA kuno benar-benar merevolusi pemahaman kita tentang kisah manusia purba: keragaman genetik manusia purba, pergerakan populasi, sejarah demografis.”

Para peneliti menggambarkan Bessé sebagai "fosil genetik". Pengurutan genetik menunjukkan dia memiliki sejarah leluhur yang unik yang tidak dimiliki oleh siapa pun manusia yang hidup hari ini.

Sekitar setengah dari susunan genetik Bessé mirip dengan penduduk asli Australia saat ini dan orang-orang dari New Guinea dan pulau-pulau Pasifik Barat.

“Nenek moyangnya akan menjadi bagian dari awal pergerakan manusia purba dari daratan Asia melalui pulau-pulau Wallacean menuju apa yang sekarang kita sebut Sahul, yang merupakan gabungan daratan zaman es Australia dan Nugini,” jelas Brumm.

Anehnya, DNA Bessé juga menunjukkan hubungan dengan Asia timur, yang bertolak belakang dengan apa yang sebelumnya diketahui tentang garis waktu migrasi ke Wallacea.

“Diperkirakan bahwa pertama kali orang-orang dengan keturunan Asia yang dominan memasuki wilayah Wallacean adalah sekitar tiga atau empat ribu tahun yang lalu, ketika petani neolitik prasejarah pertama memasuki wilayah itu dari Taiwan,” terang Brumm.

“Jika kita menemukan nenek moyang Asia ini pada orang pemburu-pengumpul yang hidup ribuan tahun sebelum kedatangan orang-orang neolitik dari Taiwan, maka itu menunjukkan … pergerakan beberapa populasi dari Asia ke wilayah ini sebelumnya,” imbuhnya.

Bessé juga merupakan kerangka pertama yang diketahui milik budaya Toalean, sekelompok pemburu-pengumpul yang tinggal di Sulawesi Selatan antara 1.500 dan 8.000 tahun yang lalu.

Ia diperkirakan berusia sekitar 17 hingga 18 tahun pada saat pemakaman. Alat-alat batu prasejarah dan oker merah ditemukan di samping jenazahnya. Kuburannya juga berisi tulang belulang binatang buas yang diburu. (DRM)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini