Hasil Riset Google: Hampir 90% Password Orang Indonesia Mudah Dijebol

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 04 November 2021 08:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 04 56 2496447 hasil-riset-google-hampir-90-password-orang-indonesia-mudah-dijebol-hpFiuI64pb.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BERKEMBANGNYA teknologi membuat masyarakat banyak bergantung kepada teknologi. Teknologi internet pun menjadi salah satu yang paling banyak dipakai oleh masyarakat, apalagi di tengah pandemi Covid-19.

Beragam situs dan aplikasi memang menawarkan kemudahan para penggunanya. Sayangnya, seiring dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan datang juga bahaya yang ditimbulkan dari menggunakan internet.

Biasanya, sebuah situs atau aplikasi di internet akan meminta data diri untuk melakukan verifikasi. Tidak jarang, data ini adalah data yang penting seperti nomor kartu kredit atau nomor KTP. Akibatnya, banyak penjahat siber pun memanfaatkan hal ini untuk mencuri data pribadi demi kepentingan mereka.

Salah satu hasil studi yang dilakukan Google dan Yougov menyebut di Kawasan Asia Pasifik, salah satunya Indonesia, hampir dua dari tiga pengguna internet di Indonesia mengalami kebocoran data pribadi. Pengguna internet Indonesia disebut lemah dalam menentukan kata kunci atau password.

Hacker

Studi tersebut mengambil sampel 13.870 pengguna internet berusia 18 tahun ke atas. Tak disebut berapa responden yang dipakai mereka dari kalangan pengguna internet di Indonesia.

Produk Marketing Manager Google Indonesia, Amanda Chan mengatakan data tersebut tak mengubah pengguna internet mengubah keiasaan mereka. Kebiasaan yang dimaksud adalah dalam menggunakan password yang lemah.

“Kita juga melihat sebanyak 89 persen pengguna masih mempertahankan kebiasaan menggunakan password yang lemah,” kata Amanda seperti dilansir dari Solopos.

Pada hari yang sama, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mengumumkan panduan membuat password yang kuat. Password yang kuat disebut sebagai salah satu upaya untuk menghindari peretasan akun media sosial, juga email.

Melalui unggahan di akun Twitternya, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menyampaikan perpaduan huruf kapital, angka dan simbol merupakan cara yang tepat dalam menentukan password. “Memadukan campuran huruf besar dan kecil, angka, simbol serta tak ada hubungannya dengan informasi pribadi seperti tanggal lahir,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu merupakan rangkaian sosialisasi sebagai kampanye menjaga keamanan akun media sosial dari peretasan. Setelah memilih password yang kuat, pengguna media sosial disebut penting melakukan otentikasi dua faktor.

“Ini berfungsi menambahkan lapisan pertahanan dari bobolan peretas. Cara kerjanya mengharuskan pengguna memverifikasi identitas lewat kode keamanan,” tulis akun itu.

Setelah hal itu dilakukan, pemilik akun disarankan untuk mengecek email secara berkala. Sebab media sosial selalu tertaut dengan akun email.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri juga menyarankan tak memberi akses kepada penyedia aplikasi pihak ke tiga alias Add on. Sebab, Add on banyak mengambil data pemilik akun dan itu merupakan celah peretasan. “Cek add on mencurigakan tidak. Jika mencurigakan segera ke pengaturan dan cabut akses mereka, revoke acces,” tambah mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini