Share

Ilmuwan Ingin Hidupkan Kembali Mamut Berbulu yang Sudah Lama Punah

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Kamis 03 Februari 2022 11:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 03 56 2541740 ilmuwan-ingin-hidupkan-kembali-mamut-berbulu-yang-sudah-lama-punah-QmFz5YSN4P.jpg Ilmuwan ingin hidupkan kembali mamut berbulu yang sudah punah (Foto: Euronews)

JAKARTA - DNA mamut berbulu baru-baru ini ditemukan oleh para ilmuwan. Mereka mencoba menggunakannya untuk mengubah gen gajah yang masih hidup di zaman sekarang.

Dilansir dari Nature World News, Kamis (3/2/2022), di tengah krisis iklim dan pemanasan global, para ilmuwan bertujuan untuk menciptakan gajah hibrida untuk hidup dan membantu memulihkan ekosistem Arktik.

Diketahui, mamut berbulu telah punah sekitar 10.000 tahun yang lalu. Meskipun tidak jelas alasan kepunahannya, namun banyak pendapat menyimpulkan "gajah raksasa" itu kemungkinan besar mati karena perubahan iklim dan perburuan oleh manusia.

Sekarang, para ilmuwan sedang mencoba untuk menciptakan apa yang disebut gajah Arktik dalam upaya untuk menyelamatkan setidaknya gen mamut berbulu dari kepunahan.

Terlepas dari kepunahan mamut berbulu ribuan tahun yang lalu, para peneliti baru-baru ini menemukan DNA mamut yang terpelihara dengan baik di permafrost Arktik.

Sejumlah ilmuwan dari Harvard Medical School di Boston, Massachusetts, menggunakan sampel DNA mamut berbulu yang dikumpulkan dan menggabungkannya dengan DNA gajah dari Asia.

BACA JUGA: Peneliti Temukan Cara Cegah Asteroid Raksasa Hancurkan Bumi ala Film "Don't Look Up"

Mereka memilih gajah dari Asia karena dinilai sebagai kerabat dekat mamut berbulu. Melalui proses ini, para ilmuwan mungkin dapat menghidupkan kembali gen-gen mamut yang telah punah.

Tim ilmuwan dipimpin oleh George Church, seorang profesor genetika dan ahli biologi. Dengan bantuan para pengusaha, Church juga ikut mendirikan Colossal, sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mematenkan teknologi penyuntingan gen yang akan menghidupkan kembali DNA mamut.

Perusahaan tersebut dikatakan telah mengumpulkan 15 juta dolar AS untuk membawa ribuan mamut berbulu kembali ke habibatnya di tundra Siberia. Church mengklarifikasi bahwa eksperimen mereka tidak serta merta menghasilkan penciptaan mamut hidup secara instan.

Dia mengatakan, tujuan mereka adalah untuk memperkenalkan gen ini ke gajah zaman sekarang. Hibrida mamut-gajah ini dianggap dapat hidup dan membantu memulihkan ekosistem Arktik.

Lebih lanjut, Church dilaporkan memberi tahu New York Times bahwa hibrida gajah raksasa baru disebut gajah Arktik .

Gajah-gajah Arktik ini, diharapkan tidak hanya bisa hidup di Kutub Utara, tetapi juga untuk mencegah pertumbuhan pohon yang cepat yang saat ini terlihat di Kutub Utara.

Sebab, pepohonan mencegah suhu dingin dan pembekuan tanah. Di tengah krisis iklim dan pemanasan global, Church menyampaikan mencairnya es di Kutub Utara akan memiliki konsekuensi yang buruk dan bencana bagi kondisi lingkungan saat ini dalam beberapa dekade mendatang.

Church menjelaskan bahwa sejumlah besar karbon dan metana yang terperangkap di bawah lapisan es Kutub Utara dapat memperburuk perubahan iklim dan pemanasan global.

Jika penelitian gajah Arktik berhasil, karbon dan metana yang terperangkap tidak akan bisa lepas ke atmosfer.

Sementara penelitian tampaknya menjanjikan, hal itu juga menimbulkan perdebatan etis jika manusia harus mengedit gen dan DNA hewan lain.

Menurut Julian Koplin, rekan peneliti dari Etika Biomedis di University of Melbourne, proyek yang melibatkan manipulasi genetik sering menimbulkan kekhawatiran tentang "bermain Tuhan" atau mengganggu alam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini