Share

2.700 Tahun Lalu Badai Matahari Terkuat Terjadi, Apa Dampaknya Jika Berlangsung Sekarang?

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Selasa 22 Februari 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 21 56 2550807 2-700-tahun-lalu-badai-matahari-terkuat-terjadi-apa-dampaknya-jika-berlangsung-sekarang-JLOKLjWyPw.jpg 2.700 tahun lalu badai Matahari terkuat terjadi (Foto: iStock/solarseven)

JAKARTA - Badai Matahari terkuat menurut para ilmuwan pernah terjadi sekitar 2.700 tahun lalu, dan mungkin bisa terulang. Lalu apa dampaknya jika berlangsung sekarang?

Dilansir dari USA Today, Senin (21/2/2022), sebuah studi baru menyebutkan terdapat badai Matahari yang luar biasa kuat menyapu Bumi sekitar 2.700 tahun silam.

Pada zaman itu, ketika orang hidup di zaman pra-industri dan pra-teknologi, peristiwa tersebut hanya berdampak kecil atau bahkan tidak berdampak sama sekali pada orang-orang.

Namun, bila badai serupa melanda Bumi hari ini, dapat berpotensi menyebabkan pemadaman listrik yang luas serta berpotensi melumpuhkan komunikasi dan merusak navigasi.

"Badai Matahari pada tahun 660 SM, sekitar 10 kali lebih kuat daripada peristiwa yang diketahui dalam 70 tahun terakhir," kata ketua penulis studi Raimund Muscheler.

Studi ini mengemukakan, badai Matahari dengan kekuatan serupa akan menjadi ancaman bagi masyarakat modern dalam hal sistem komunikasi dan navigasi, teknologi ruang angkasa, dan operasi pesawat komersial.

Para ilmuwan mempelajari es kuno di Greenland untuk mengungkap petunjuk tentang badai Matahari. Melihat inti es yang berasal dari 100.000 tahun yang lalu, para peneliti menemukan isotop radioaktif yang mengindikasikan sebuah badai matahari yang sangat kuat pada 2.700 tahun lalu.

"Jika badai Matahari tersebut terjadi hari ini, bisa memiliki efek parah pada teknologi tinggi kita," kata Muscheler, yang juga seorang ahli geologi di Universitas Lund, Swedia.

Dua contoh badai Matahari parah yang menyebabkan pemadaman listrik yang luas terjadi di Quebec, Kanada pada 1989 dan Malmo, Swedia pada 2003.

Badai Matahari terbentuk dari partikel berenergi tinggi yang dilepaskan dari Matahari oleh ledakan di permukaan bintang.

Jenis badai ini, adalah bagian dari apa yang dikenal sebagai cuaca luar angkasa, ketika energi yang meledak dari Matahari berinteraksi dengan atmosfer Bumi dan medan geomagnetik.

Para ilmuwan mengatakan, studi ini adalah penemuan ketiga badai Matahari besar dalam sejarah. Ini menunjukkan bahwa meskipun badai jarang terjadi, mereka adalah efek alami dari aktivitas Matahari.

"Itulah sebabnya kita harus meningkatkan perlindungan masyarakat terhadap badai Matahari. Penelitian kami menunjukkan bahwa risiko saat ini diremehkan. Kita harus lebih siap," " kata Muscheler.

Adapun studi ini diterbitkan dalam jurnal peer-review Proceedings of National Academy of Sciences.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini