Share

Penjelasan Peristiwa Isra Miraj dengan Pendekatan Ilmu Fisika

Kevi Laras, Jurnalis · Selasa 01 Maret 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 28 56 2554328 penjelasan-peristiwa-isra-miraj-dengan-pendekatan-ilmu-fisika-uDXLv5ZOyG.jpg Penjelasan peristiwa Isra Miraj dengan pendekatan ilmu Fisika (Foto: Freepik)

JAKARTA - Peristiwa Nabi Muhammad SAW yang dapat menembus langit ketujuh atau Isra Mi'raj, menuai pro dan kontra untuk membuktikannya secara ilmiah.

Guru Besar Teori Fisika ITS, Prof. Agus Purwanto mengatakan, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa dijelaskan dengan teori relativitas khusus, yaitu dengan teori kecepatan cahaya.

Agus menjelaskan, jika memakai teori tersebut, Rasulullah belum keluar dari sistem tata surya. Menurutnya, penggunaan teori itu mengisyaratkan adanya ruang dengan dimensi tinggi, immaterial, atau gaib di sekitar kita.

“Cahaya ini, diketahui oleh ilmuwan dan diidentifikasi jika kecepatan cahaya itu 300.000 km/detik. Sehingga, jika cahaya ini melingkar mengelilingi Bumi, maka dalam satu detik bisa mengelilingi Bumi sekitar 6 sampai 7 kali,” kata Agus, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (28/2/2022)

Dalam teori relativitas Einstein, sambungnya, diterangkan bahwa kehidupan ini tidak ada yang mutlak. Segala sesuatu relatif dalam gerak dan relatif dalam ruang.

Einstein merumuskan sebagai berikut waktu, t'= waktu benda bergerak, t= waktu benda yang diam, v= kecepatan benda, c= kecepatan cahaya.

Sementara, menurut Agus, sebagai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan Mi’raj yang artinya bergerak ke langit ke tujuh (sidratul muntaha), jika disimplikasi, maka isra’ adalah perjalanan horizontal dan mi’raj adalah perjalanan vertikal.

"Kita asumsikan kejadian mulai bakda salat isya atau jam 20.00 sampai jam 4.00 pagi menjelang subuh. Jadi, membutuhkan waktu 8 jam, karena perjalannya bolak-balik, maka antara pulang pergi memerlukan waktu sama 4 jam,” papar dia.

Dia menerangkan, Nabi Muhammad SAW dalam perjalanannya bersama Buraq, maka dapat diasumsikan Rasulullah dalam peristiwa bergerak dengan kecepatan tertinggi, yaitu kecepatan cahaya.

Maka dalam satu jam Rasulullah bisa menempuh jarak sampai 4.320.000.000 km.

Terkait dengan tata surya, ilmuan mengidentifikasi jarak antara Matahari dengan Bumi adalah 149.600.00 km. Sehingga, waktu yang diperlukan cahaya dari Matahari ke Bumi itu hanya 8 menit.

“Kemudian planet terluar, Neptunus itu diketahui jaraknya 4.335.000.000 km. Jadi, ini masih lebih besar dari jarak yang ditempuh oleh cahaya selama 4 jam, artinya Baginda Rasulullah dalam waktu 4 jam belum sampai di Neptunus. Ternyata, belum sampai keluar dari Tata Surya kita,” jelas Agus.

Dengan demikian, penjelasan Isra Miraj dengan teori relativitas itu tidak memadai, Agus menyarankan untuk merujuk kepada QS Al Isra’ ayat 1.

"Ayat tersebut memberi isyarat bahwa, inilah kosmologi Islam, bahwa realitas itu terdiri dari ruang, waktu, materi, dan roh,” ucap dia.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini