Share

Seorang Detektif Bisa Identifikasi Tentara Rusia Hanya dengan Teknologi Face Recongnition

Ahmad Haidir, Jurnalis · Senin 14 Maret 2022 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 11 56 2560316 seorang-detektif-bisa-identifikasi-tentara-rusia-hanya-dengan-teknologi-face-recongnition-bXrVVgESBU.jpg Seorang detektif bisa identifikasi tentara Rusia hanya dengan Teknologi Face Recongnition (Foto: Protocol)

JAKARTA โ€“ Pada 1 Maret 2022 lalu, presiden Republik Ceko Ramzan Kadyrov memposting sebuah video pendek di Telegram, di mana memperlihatkan seorang prajurit berjenggot berdiri di depan barisan tank.

Unggahan itu, ditujukan Kadyrov untuk meyakinkan Ukraina bahwa tentara Rusia tidak melukai warga sipil dan bahwa Vladimir Putin ingin negara mereka menentukan nasibnya sendiri.

Setelah video tersebut viral dan beredar, seorang detektif sekaligus CEO perusahaan penegakan hukum dan pelatihan militer Prancis, Tactical Systems, lantas mengambil tangkapan layar wajah prajurit itu dan mulai bekerja.

Dalam waktu sekitar satu jam dengan menggunakan teknologi pemindai wajah (Face Recongnition) secara online, ia mampu mengidentifikasi tentara itu kemungkinan adalah Hussein Mezhidov, seorang komandan Chechnya yang dekat dengan Kadyrov dan terlibat dalam serangan Rusia di Ukraina. Tidak hanya itu, sang detektif sampai bisa menemukan akun Instagram-nya.

โ€œHanya dengan memiliki akses ke komputer dan internet, Anda pada dasarnya dapat menjadi seperti agen intelijen dari sebuah film,โ€ kata sang CEO yang meminta namanya disamarkan sebagai YC untuk menghindari dampak yang tidak diinginkan, dikutip dari News Bit, Senin (14/3/2022).

Adapun klien Tactical Systems sendiri adalah angkatan bersenjata Prancis, perusahaan tersebut juga menawarkan pelatihan dalam pengumpulan intelijen bagi siapa saja.

Sementara itu, konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina juga telah melebar hingga ke ranah teknologi, kedua negara bersama dengan aliansinya saling melacak identitas militer satu sama lain.

Kemajuan internet yang begitu canggih pun telah mendukung hal itu untuk menjadi mungkin, bahkan untuk urusan diluar intelijen sekalipun.

Belum lama ini, seorang komandan atau tawanan perang yang digambarkan dalam sebuah laporan berita mungkin hanya dapat dikenali oleh para analis militer dan intelijen atau kolega, teman, dan keluarga mereka sendiri.

Namun saat ini, orang asing di belahan dunia lain pun dapat menggunakan tangkapan layar wajah seseorang untuk melacak setidaknya nama dan foto keluarga mereka.

Kekuatan untuk mengidentifikasi orang dari jauh tidak hanya dapat membawa akuntabilitas baru ke dunia militer, tetapi juga membuka jalan baru untuk sebuah kejahatan digital.

Mengidentifikasi orang-orang dalam video atau foto yang diklaim sebagai garda depan, dapat mengekspos mereka atau keluarga mereka pada pelecehan online atau kejahatan yang lebih buruk lagi.

Jika sosok detektif online dari sebuah perusahaan swasta dapat mengidentifikasi identitas seorang pasukan menggunakan pengenalan wajah, logikanya tentu lembaga pemerintah dapat melakukan hal yang sama dengan lebih leluasa lagi.

โ€œSaya yakin ada analis Rusia yang melacak Twitter dan TikTok dengan akses ke teknologi serupa,โ€ ucap Ryan Fedasiuk, seorang petugas di Center for a New American Security.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini