Share

NASA Buka Sampel Material Bulan Setelah Puluhan Tahun Disimpan

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Senin 14 Maret 2022 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 11 56 2560321 nasa-buka-sampel-material-bulan-setelah-puluhan-tahun-disimpan-2Il8mw4FaQ.jpg NASA buka sampel material Bulan setelah puluhan tahun disimpan (Foto: NASA)

JAKARTA - Lima puluh tahun yang lalu, astronot di salah satu misi Apollo NASA menancapkan sepasang tabung sepanjang 35 cm ke permukaan Bulan.

Setelah tabung diisi dengan material batu dan tanah, para astronot tadi - Eugene Cernan dan Harrison "Jack" Schmitt, menyegel salah satu tabung dengan vakum.

Dilansir dari NPR, Senin (14/3/2022), sementara yang lain dimasukkan ke dalam wadah normal yang tidak tertutup rapat. Keduanya dibawa kembali ke Bumi.

Sekarang, para ilmuwan NASA di Johnson Space Center sedang bersiap untuk membuka tabung pertama dengan hati-hati, yang tetap tertutup rapat selama bertahun-tahun sejak misi Apollo 17 pada 1972, terakhir kali manusia menginjakkan kaki di bulan.

Lalu, kenapa harus menunggu puluhan tahun untuk membukanya? NASA mempertimbangkan teknologi kala itu belum mendukung untuk melakukan penelitian lebih jauh terhadap sampel yang dibawa.

"NASA tahu sains dan teknologi akan berkembang dan memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari materi dengan cara baru untuk teka-teki di dalamnya (materi dari Bulan)," kata Lori Glaze NASA , direktur Divisi Planetary Science.

Tabung yang tidak disegel dari misi itu telah dibuka pada 2019 lalu. Lapisan tanah bulan telah diawetkan, dan sampel tersebut memberikan wawasan tentang sebuah subjek layaknya tanah longsor.

Karena sampel yang akan dibuka sekarang masih tersegel, para ilmuwan berpikir mungkin mengandung sesuatu selain batu dan tanah, misalnya gas.

Tabung yang dipakai bisa saja berisi zat yang dikenal sebagai volatil, yang akan menguap pada suhu normal, seperti air, es, dan karbon dioksida. Bahan di bagian bawah tabung pun sangat dingin.

Jumlah gas dalam sampel, diperkirakan sangat sedikit, sehingga para ilmuwan menggunakan perangkat khusus yang disebut manifold, ini dirancang oleh tim di Universitas Washington di St. Louis, untuk mengekstrak dan mengumpulkan gas.

Alat lain dikembangkan oleh European Space Agency (ESA) untuk menembus sampel dan menangkap gas saat mereka menguap. Para ilmuwan di sana menyebut alat itu sebagai "Apollo can opener."

Proses pembukaan dan pengambilan yang hati-hati telah dimulai, dan sejauh ini, berjalan dengan baik. Segel pada tabung sampel bagian dalam tampaknya masih utuh.

Sekarang, proses penusukan sedang berlangsung, dengan "Apollo can opener" itu yang diharapkan siap untuk menjebak gas apa pun yang mungkin keluar.

Jika ada gas dalam sampel, para ilmuwan akan dapat menggunakan teknologi spektrometri massa modern untuk mengidentifikasinya.

Spektrometri massa adalah alat untuk menganalisis dan mengukur molekul. Gas juga dapat dibagi menjadi sampel kecil untuk dipelajari oleh peneliti.

"Setiap komponen gas yang dianalisis dapat membantu untuk menceritakan bagian yang berbeda dari cerita tentang asal-usul dan evolusi volatil di Bulan dan di awal Tata Surya," jelas Francesca McDonald , yang memimpin proyek di ESA.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini